[FF] You Came Along With My Fate

You Came Along With My Fate

"Dingin. Aku rindu Korea. Kapan kita bisa kembali?"


"Sampai skripsimu selesai. Kita hanya menunggu itu, kan?"


"Tapi Natal tinggal sebentar lagi. Ini sudah tanggal sembilan Desember."


"Bukannya tujuh tahun yang lalu kau berkata bahwa kau ingin sekali merayakan Natal di Eiffel?"


"Itu kan dulu sebelum aku menginjakkan kaki di Paris. Sebelum kita mendapat beasiswa ke Perancis. Lagipula kita sudah merayakannya di sini selama empat tahun terakhir."


"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu.
Tunggu skripsimu selesai lalu kita akan pulang ke Korea. Oke?"


"Hmmppft.. Baiklah."


"Aku mengenalmu sepanjang aku mengenal keindahan."


"Maksudmu?"


# # #

Seorang gadis kecil berumur lima tahun berjongkok di tepi jalan yang bersalju. Hidungnya memerah, matanya terus mengeluarkan bulir-bulir air mata yang menganak pinak di pipinya, giginya beradu karena kedinginan, bibirnya mulai membiru, dan salju sudah membuat topi rajutan berwarna ungu yang dipakainya setengah basah. Ia terus sesenggukan hingga ada sebuah payung bening yang menghalangi salju membasahi tubuhnya.


"Kau bisa sakit."

Gadis kecil itu mendongak. Didapatinya seorang anak laki-laki, mungkin lebih tua setahun darinya menatapnya dengan ekspresi datar, tetapi dari sudut pandang gadis kecil itu, ia bisa melihat kecemasan di mata seorang yang berdiri di sebelahnya itu.


"Kau bisa sakit," anak laki-laki itu mengulang perkataannya.


Gadis kecil itu menunjuk lutut kanannya yang berdarah.


"Biar kulihat. Pegang ini."

Ia mengangsurkan payung yang digenggamnya kepada gadis kecil itu lalu memeriksa luka di lutut kanan gadis kecil itu, si anak laki-laki mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna putih dari saku kanan celananya membersihkan luka gadis kecil yang terus terisak di hadapannya. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangan lain berwarna biru muda dari saku mantelnya dan memberikannya pada gadis kecil itu.


"Berhentilah menangis."


Gadis kecil itu menurut. Ia menyeka air matanya dengan sapu tangan biru muda yang baru didapatnya.


"Kau bisa berjalan?"


Gadis kecil itu menggeleng.


"Rumahmu di mana?"


Gadis kecil itu menunjuk ujung jalan, satu di antara dua rumah yang ada di sana. Anak laki-laki itu mengangguk kecil.


"Biar kugendong. Ayo naik."


Gadis kecil itu terlihat ragu-ragu.


"Aku jauh lebih tinggi darimu. Aku pasti kuat menggendongmu jika hanya ke sana."


Gadis kecil itu akhirnya naik ke punggung si anak laki-laki.


"Pegangan. Jangan sampai jatuh."


Gadis kecil itu memeluk leher si anak laki-laki erat.


"Namaku Choi Min Ho. Kau?"


Gadis kecil itu akhirnya membuka mulutnya, memperdengarkan suaranya kepada si anak laki-laki untuk pertama kalinya.


"Hye Wook. Choi Hye Wook."

Hanya suara langkah si anak laki-laki yang terdengar berikutnya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka sendiri tentang apa yang mereka temukan hari itu. Si anak laki-laki menemukan keindahan untuk pertama kalinya dan gadis kecil itu menemukan jalan di mana ia akan melangkah selanjutnya, sesuatu yang disebutnya takdir.


# # #


"Lihat. Pemandangan dari puncak Eiffel selalu bagus ya?"


"Hei, jangan mengalihkan pembicaraan. Apa maksud perkataanmu tadi?"


"Tujuh belas tahun yang lalu, seorang anak laki-laki menemukan potongan dari batu paling berharga di dunianya sedang menangis di tengah lebatnya salju yang membuat semuanya terlihat putih. Seorang gadis kecil dengan topi rajutan berwarna ungu dan bibir yang mulai membiru."


Si gadis terlihat sedikit terkejut tetapi juga penasaran.


"Lanjutkan."


"Seketika itu juga ia merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti vodka telah menggantikan darah mengisi setiap pembuluh dalam tubuhnya. Sesuatu yang hangat mengalir dalam tubuhnya. Juga keinginan untuk melindungi keindahan yang ada di hadapannya.
Kaulah keindahan itu. Je t'aime. Veux tu m'épouser?"

Laki-laki itu berlutut sambil memegang kotak beludru hitam yang terbuka di hadapan seorang gadis berambut dark chestnut yang mengenakan beanie berwarna ungu. Keindahan yang ditemukannya tujuh belas tahun yang lalu. Gadis itu hanya bisa tercengang lalu mengangguk kecil. Laki-laki itu kemudian menyematkan cincin berwarna perak itu ke jari manisnya. Tangis gadis itu pecah seketika. Laki-laki itu bangkit lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Si gadis berbisik di telinga tunangannya.


"Apakah kau tahu apa yang dirasakan gadis kecil itu tujuh belas tahun yang lalu?"


"Molla. Kau tahu?"


"Ia menemukan takdirnya."

# FIN #

0 comments:

Post a Comment

My Plurk

About Me

My photo
sragen, jawa tengah, Indonesia
Nothing special about me. Just a girl who loves sky, star,writing and dreaming everyday.

chat here


ShoutMix chat widget

SHINee


My Visitors

who's online

FEEDJIT Live Traffic Feed

FEEDJIT Live Traffic Map

About this blog

Banner

Freaky Fictie ”F(4)’fanfic