[FF] The Name I Love

The Name I Love

"Oppa."


"Ya?"


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Hmm.."


"Apakah kita akan tetap seperti ini selamanya?"


"Seperti ini?"


"Ya. Seperti ini. Berbaring di pangkuan oppa, memandang bintang dari atap setiap malam."


"Ya, mungkin. Apakah kau mau semuanya berubah?"


"Sedikit. Mungkin. Maukah oppa berjanji padaku?"


"Janji apa?"


"Oppa tidak akan meninggalkanku. Hubungan kita tidak akan pernah berubah selamanya."


"Baiklah. Yubikiri."


"Yubikiri."


###


"Baiklah. Yubikiri."


"Yubikiri."


Ia menautkan jari kelingkingnya yang mungil ke jari kelingkingku. Taukah kau Sang Eun? Ada bagian dari diriku yang tidak sanggup melaksanakan janji kita.


###


"Baiklah. Yubikiri."


"Yubikiri."


Aku menautkan jari kelingkingku ke jari kelingking Jin Ki oppa. Ini terasa sangat berat. Bodoh! Mengapa aku membuat janji seperti itu?


###

Mengapa aku harus terlahir sebagai Sang Eun dan bukan yang lain? Mengapa Jin Ki yang harus menjadi oppaku dan bukan yang lain? Mengapa kami harus bertemu di kehidupan sekarang sebagai saudara tiri? Bukan di kehidupan sebelumnya atau selanjutnya sebagai dua manusia dengan takdir yang sejalan dan benang merah di jari kelingking yang saling terhubung? Apakah cintaku untuknya tidak diizinkan? Apakah tidak ada hak baginya untuk mengetahui apa yang terus menyuarakan detak jantungku selama aku mengenalnya?


###

Tidak ada yang bisa membendung apa yang aku rasakan untuknya. Semakin sering aku dekat dengannya, semakin tebal endapan yang ada dalam hatiku. Aku tahu dia menyayangiku, tetapi seperti apa rasa sayangnya kepadaku aku tidak tahu. Apakah hanya rasa sayang dari dongsaeng kepada oppanya atau rasa sayang yang sama dengan apa yang kurasakan? Bolehkah jika aku berharap lebih?


###


"Bagaimana mempelai pria? Tegang huh?"


"Sedikit."


"Ini ada titipan dari dongsaeng tercintamu."


"Diary?"


"Tidak tahu. Dia ingin kau membacanya."


###

23 September 2004
Appa akan menikah lagi! Ini gila, aku tidak mau ibu maupun kakak baru. Mereka akan datang minggu depan untuk berkenalan denganku. Aku tidak mau!!


###

30 September 2004
Appa berhasil menemukanku di rumah Eun Suh.
Cih, aku diseret pulang untuk bertemu dengan mereka. Ahjumma yang sangat baik dan oppa yang ramah. Gentle. Ha ha.
Tapi aku takut itu semua hanya kedok.


###

18 Juli 2006
Namanya Jin Ki oppa. Aku kaget saat dia membangunkanku tadi pagi. Aku belum terbiasa dengan kehadirannya, tetapi aku rasa aku nyaman jika bersamanya.


###

14 Desember 2006
Ulang tahun Jin Ki oppa!
Saengil chukkaeyo oppa ^ ^
Dia sangat gembira saat mendapat kado dariku.
Bahkan Jin Ki oppa langsung memakai jam tangan yang kuberikan.


###

30 Desember 2006
Jin Ki oppa ingat ulang tahunku.
Ia yang pertama kali memberi ucapan selamat ulang tahun kepadaku. Jin Ki oppa bahkan memberiku sebuah gelang. Dari perak mungkin, aku tidak tahu. Gelang dengan ornamen kunci dan sayap serta plat kecil berukirkan JS. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Jin Ki Sang Eun mungkin. Kami jadi seperti sepasang kekasih kalau begitu. Lucu sekali.


###

8 April 2007
Am I in love or it just another crush?


###

16 Mei 2008
Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki
The name I love


###

14 Desember 2009
Bulan depan Jin Ki oppa akan menikah.


###

23 November 2009
Tiga minggu lagi aku harus siap mendapati hatiku berubah menjadi debu.


###

28 November 2009
Tujuh belas hari lagi.


###

6 Desember 2009
Sembilan hari.


###

12 Desember 2009
Lusa. Jangan egois, Sang Eun.


###

13 Desember 2009
Aku begitu bahagia melihat dia menemukan kebahagiaannya
Senyumnya adalah hal terbaik yang kutemukan di antara dalamnya jejak langkah kakiku
Mata yang berbinar itulah yang membuatku tetap bertahan di belakangnya tanpa dia menangkap sedikitpun bayangku
Walau aku tahu ini sangat menyakitkan, aku tidak bisa dan tak akan pernah mencuri sedikitpun oksigen darinya
Yang jelas, aku tahu aku mencintainya


###

14 Desember 2009
Aku akan tersenyum untuknya hari ini.


###


Sang Eun! Aku harus mencarinya.
Aku menemukannya duduk di taman gereja. Aku memeluknya. Ia terkejut.


"Kenapa kau tak mengatakannya dari dulu?"


Ia diam saja.


"Jawab, Sang Eun."


"Karena aku tidak mau hubungan kita berubah."


"Dengar, dalam hidupku hanya ada satu orang yang kuyakini bahwa ia merupakan orang yang tepat untukku memberikan separuh diriku. Dia ada dalam pelukanku sekarang. Orang bodoh yang tidak mau mengatakan perasaannya."


"Kau sama bodohnya denganku oppa. Kau juga tidak mengatakan apa-apa kepadaku."


"Ya. Kita sama bodohnya."


"Kalau aku mengatakannya lebih awal, apakah semuanya akan berbeda?"


"Pasti. Aku akan mendekapmu lebih erat."


###


"Aku bersedia."


Semuanya tersenyum gembira.


Dia di sana. Berdiri di altar dengan seorang wanita di sampingnya, tempat yang sangat aku damba. Jin Ki oppa menoleh ke arahku. Aku tersenyum. Aku sudah menepati janji yang kubuat, janji kita oppa.
Jin Ki, it will always be the name I love.

# FIN #

[FF] You Came Along With My Fate

You Came Along With My Fate

"Dingin. Aku rindu Korea. Kapan kita bisa kembali?"


"Sampai skripsimu selesai. Kita hanya menunggu itu, kan?"


"Tapi Natal tinggal sebentar lagi. Ini sudah tanggal sembilan Desember."


"Bukannya tujuh tahun yang lalu kau berkata bahwa kau ingin sekali merayakan Natal di Eiffel?"


"Itu kan dulu sebelum aku menginjakkan kaki di Paris. Sebelum kita mendapat beasiswa ke Perancis. Lagipula kita sudah merayakannya di sini selama empat tahun terakhir."


"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu.
Tunggu skripsimu selesai lalu kita akan pulang ke Korea. Oke?"


"Hmmppft.. Baiklah."


"Aku mengenalmu sepanjang aku mengenal keindahan."


"Maksudmu?"


# # #

Seorang gadis kecil berumur lima tahun berjongkok di tepi jalan yang bersalju. Hidungnya memerah, matanya terus mengeluarkan bulir-bulir air mata yang menganak pinak di pipinya, giginya beradu karena kedinginan, bibirnya mulai membiru, dan salju sudah membuat topi rajutan berwarna ungu yang dipakainya setengah basah. Ia terus sesenggukan hingga ada sebuah payung bening yang menghalangi salju membasahi tubuhnya.


"Kau bisa sakit."

Gadis kecil itu mendongak. Didapatinya seorang anak laki-laki, mungkin lebih tua setahun darinya menatapnya dengan ekspresi datar, tetapi dari sudut pandang gadis kecil itu, ia bisa melihat kecemasan di mata seorang yang berdiri di sebelahnya itu.


"Kau bisa sakit," anak laki-laki itu mengulang perkataannya.


Gadis kecil itu menunjuk lutut kanannya yang berdarah.


"Biar kulihat. Pegang ini."

Ia mengangsurkan payung yang digenggamnya kepada gadis kecil itu lalu memeriksa luka di lutut kanan gadis kecil itu, si anak laki-laki mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna putih dari saku kanan celananya membersihkan luka gadis kecil yang terus terisak di hadapannya. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangan lain berwarna biru muda dari saku mantelnya dan memberikannya pada gadis kecil itu.


"Berhentilah menangis."


Gadis kecil itu menurut. Ia menyeka air matanya dengan sapu tangan biru muda yang baru didapatnya.


"Kau bisa berjalan?"


Gadis kecil itu menggeleng.


"Rumahmu di mana?"


Gadis kecil itu menunjuk ujung jalan, satu di antara dua rumah yang ada di sana. Anak laki-laki itu mengangguk kecil.


"Biar kugendong. Ayo naik."


Gadis kecil itu terlihat ragu-ragu.


"Aku jauh lebih tinggi darimu. Aku pasti kuat menggendongmu jika hanya ke sana."


Gadis kecil itu akhirnya naik ke punggung si anak laki-laki.


"Pegangan. Jangan sampai jatuh."


Gadis kecil itu memeluk leher si anak laki-laki erat.


"Namaku Choi Min Ho. Kau?"


Gadis kecil itu akhirnya membuka mulutnya, memperdengarkan suaranya kepada si anak laki-laki untuk pertama kalinya.


"Hye Wook. Choi Hye Wook."

Hanya suara langkah si anak laki-laki yang terdengar berikutnya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka sendiri tentang apa yang mereka temukan hari itu. Si anak laki-laki menemukan keindahan untuk pertama kalinya dan gadis kecil itu menemukan jalan di mana ia akan melangkah selanjutnya, sesuatu yang disebutnya takdir.


# # #


"Lihat. Pemandangan dari puncak Eiffel selalu bagus ya?"


"Hei, jangan mengalihkan pembicaraan. Apa maksud perkataanmu tadi?"


"Tujuh belas tahun yang lalu, seorang anak laki-laki menemukan potongan dari batu paling berharga di dunianya sedang menangis di tengah lebatnya salju yang membuat semuanya terlihat putih. Seorang gadis kecil dengan topi rajutan berwarna ungu dan bibir yang mulai membiru."


Si gadis terlihat sedikit terkejut tetapi juga penasaran.


"Lanjutkan."


"Seketika itu juga ia merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti vodka telah menggantikan darah mengisi setiap pembuluh dalam tubuhnya. Sesuatu yang hangat mengalir dalam tubuhnya. Juga keinginan untuk melindungi keindahan yang ada di hadapannya.
Kaulah keindahan itu. Je t'aime. Veux tu m'épouser?"

Laki-laki itu berlutut sambil memegang kotak beludru hitam yang terbuka di hadapan seorang gadis berambut dark chestnut yang mengenakan beanie berwarna ungu. Keindahan yang ditemukannya tujuh belas tahun yang lalu. Gadis itu hanya bisa tercengang lalu mengangguk kecil. Laki-laki itu kemudian menyematkan cincin berwarna perak itu ke jari manisnya. Tangis gadis itu pecah seketika. Laki-laki itu bangkit lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Si gadis berbisik di telinga tunangannya.


"Apakah kau tahu apa yang dirasakan gadis kecil itu tujuh belas tahun yang lalu?"


"Molla. Kau tahu?"


"Ia menemukan takdirnya."

# FIN #

My Plurk

About Me

My photo
sragen, jawa tengah, Indonesia
Nothing special about me. Just a girl who loves sky, star,writing and dreaming everyday.

chat here


ShoutMix chat widget

SHINee


My Visitors

who's online

FEEDJIT Live Traffic Feed

FEEDJIT Live Traffic Map

About this blog

Banner

Freaky Fictie ”F(4)’fanfic