Hancurkan aku Tuhan
Tak bisa aku bernafas jika aku tak lengkap
Aku telah membunuh hatiku
Tersesak aku dalam perih
Tuhan
Aku tahu in semua karenaku
Tapi aku tak ingin mengakhirinya seperti ini
Kenapa Kau remukkan aku Tuhan?
Tuhan
Berikan saja hembusan nafasku untuknya
Biar aku yang menggantikan tempatnya
# # #
Aish! Aku terlambat lagi! Tae Min menahanku terlalu lama tadi.
“Oppa, mian aku terlambat. Tadi aku mendapat tugas tambahan dari songsaenim.”
“Gwenchana chagiya. Kau datang saja aku sudah senang.”
“Ah, oppa.”
“Oh ya, ini,” Min Ho oppa mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ia membuka kotak itu. Ada dua cincin di dalamnya. Min Ho oppa mengambil cincin yang lebih kecil lalu menyematkan cincin putih berukir sulur pohon itu pada jari manis tangan kiriku.
“Sang Ri, seminggu lagi aku akan berangkat ke Paris,” katanya sambil memegang kedua tanganku, menunduk menatap cincin yang baru saja ia berikan.
“Ne, aku tahu oppa. Dan cincinnya, indah sekali. Gamsahae.”
“Chagiya, cincin itu tidak akan mengikatmu denganku. Aku hanya ingin, selama aku berada di Paris, kau akan selalu mengingatku dalam setiap langkahku. Begitu juga aku, aku akan selalu mengingatmu. Kau ada bersamaku.”
“Oppa,” Pandanganku mulai kabur. Min Ho oppa memelukku.
“Jangan menangis.” bisiknya.
# # #
“Hey, kau tidak percaya dengan kata-kataku ya? Kita sudah bersahabat sejak bertahun-tahun lalu. Lagipula, apa untungnya aku mengganggu hubunganmu dengan
“Bukan begitu, aku hanya belum mendapatkan buktinya. Jadi aku tidak mau menuduhnya sembarangan,” aku membela diri.
“Baiklah kalau kau menginginkan bukti, datanglah ke taman nanti sore. Kau akan tahu yang kukatakan itu benar.”
“……….”
“Lebih baik sakit sekarang daripada nanti.”
# # #
Apa benar dia tega melakukannya di belakangku? Percakapanku dengan Key tadi siang benar-benar mengganggu pikiranku dan membuatku berada di sini sekarang. Di taman yang dimaksud Key. Menunggu. Harap-harap cemas. Apakah benar apa yang dikatakan Key?
Tae Min? Ya, itu Tae Min. Tidak mungkin salah, aku sudah mengenalnya lebih dari 16 tahun. Ia bersama. Sang Ri? Jadi Tae Min yang?
A…aapa??? Mereka berciuman?
# # #
Omo! Tae Min menciumku, aku bahkan belum pernah berciuman dengan Min Ho oppa. Aku merasa berdosa sekali, maafkan aku oppa.
# # #
Aku menciumnya. Ini pasti ciuman pertamanya, hyung tidak pernah bercerita kalau dia sudah mencium
# # #
Aku hancur, mengapa mereka berselingkuh dibelakangku? Lebih baik aku segera ke
# # #
Besok Min Ho oppa akan berangkat ke
# # #
Ia berbalik.
“Min Ho oppa, kukira siapa.” Wajahnya memerah.
“Kau sudah menunggu lama?”
“Ne, tidak biasanya oppa terlambat.”
“Mian, tadi aku ada sedikit urusan. Kita kemana hari ini?”
“Bagaimana kalau ke taman yang biasa saja?”
“Ne.”
“Kalau begitu, ayo ke sana, sebelum terlalu malam.” Ia tersenyum, lalu meraih tanganku.
Entah kenapa aku ingin memeluknya. Kutarik tangannya, lalu kurengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku.
“Jangan bergerak.”
# # #
Hangat. Nyaman sekali dalam pelukannya seperti ini. Aku tidak ingin dia pergi. Walaupun aku sudah menyakiti hatinya, aku masih tetap mencintainya.
“Saranghae.” Ucap Min Ho oppa.
“Nado saranghae.”
Kau tak tahu apa yang kulakukan dibelakangmu oppa, mianhae.
Min Ho oppa melepaskan pelukannya, menggandengku menuju tepi jalan. Kami tak saling bicara sambil menunggu lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Min Ho oppa menepuk bahuku.
“Sudah hijau, ayo jalan.”
Aku berjalan mendahului Min Ho oppa sambil menunduk, masih merasa bersalah. Seharusnya aku tidak tergoda oleh Tae Min, pasti semuanya tetap baik-baik saja. Tiba-tiba seseorang mendorongku.
BRAK! Suasana menjadi ramai, orang-orang berkerumun. Aku menoleh ke belakang sambil meringis, menahan rasa sakit di sikuku akibat dorongan dari orang tadi. Ya Tuhan, itu Min Ho oppa. Tergeletak disana dengan genangan darah di sekitar kepalanya.
# # #
Aku masih menangis di bangku rumah sakit. Ahjussi hanya bisa berdoa, ahjumma menangis tanpa suara. Tae Min mematung di sebelahku, menunggu dokter keluar dari UGD. Lampu UGD dimatikan, dokter keluar, Tae Min langsung bangkit dan merepet dokter dengan pertanyaan yang tidak terdengar jelas.
“Tenang, tenang.” Dokter mendekat ke arah kami.
“Choi Min Ho dapat diselamatkan. Kami sudah memberinya pertolongan yang diperlukan, tetapi dia masih belum bisa melewati masa kritisnya.” Jelas dokter tersebut.
Aku merasa lebih lega, setidaknya Min Ho oppa masih hidup dan aku dapat melihat senyumnya lagi besok.
“Nak Sang Ri.”
“Ada apa ahjumma?”
“Sebaiknya kau pulang. Ini sudah malam.”
“Tapi ahjumma, aku masih ingin menunggui Min Ho oppa.”
“Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka pasti sangat khawatir sekarang. Biar Tae Min yang mengantarmu, ya?”
“Ne.”
# # #
Aku terbangun, sudah dini hari. Min Ho hyung belum sadar juga. Appa dan eomma tertidur pulas di sofa. Aku beranjak menuju ranjang Min Ho hyung, kondisinya sudah mulai stabil. Ia berhasil melewati masa kritisnya 3 jam yang lalu. Aku menghempaskan tubuhku ke kursi di sebelah ranjang Min Ho hyung.
Eh, apakah aku salah lihat? Kurasa tadi jarinya bergerak. Tidak, Min Ho hyung mulai membuka matanya.
“Tae Min.”
“Hyung sudah sadar? Akan kubangunkan appa dan eomma.”
Aku beranjak dari tempat dudukku, tapi hyung menahanku.
“Tidak usah, duduklah.”
Aku kembali duduk.
“Aku hanya ingin bicara denganmu.”
“Bicara tentang apa hyung?”
“Aku sudah mengetahuinya.”
“Mengetahui tentang?”
“Hubunganmu dan Sang Ri.”
Aku terkejut. Min Ho hyung mengetahuinya darimana? Sejak kapan?
“Beberapa hari yang lalu aku melihatmu dan
Aku menunduk, merasa bersalah. Hyung mengatakan semuanya dengan datar tanpa emosi. Harusnya ia marah padaku, bukan seperti ini.
“Tidak, aku tidak akan menyalahkanmu atau
Ia melepas cincin perak dari jari manis tangan kirinya. Lalu meletakkannya ke dalam genggamanku.
“Jaga ini, jaga juga Sang Ri baik-baik. Aku percaya padamu.”
Ia tersenyum padaku. Aku hanya bisa mengangguk, menyesali kebodohanku.
Tiiiiiiiiiiiiiiit.....suara panjang memekakkan telinga itu terdengar.
Detak jantung hyung berhenti, langsung kupencet bel berulang-ulang berteriak memanggil-manggil dokter. Appa adan eomma terbangun. Dokter dan suster datang sambil membawa alat kejut jantung. Kami diminta menunggu di luar.
Tuhan, selamatkanlah dia. Dia terlalu baik untuk tinggal di rumahMu secepat ini. Dokter keluar dari kamar Min Ho hyung. Aku tidak beranjak dari dudukku, menunggu respon dari appa dan eomma.
Tangis eomma pecah. Berarti kau telah beranjak dari dunia ini, hyung. Aku membuka genggaman tanganku, kupandangi cincin Min Ho hyung yang kugenggam selama aku berdoa tadi.
“Bagaimana aku harus memberitahunya hyung?”
# # #
Mengapa Kau ciptakan aku jika tidak untuk bersamanya?
Dalam pujiku untukMu ini
Kusertakan salamku untuknya
Walau tak nyata hadirnya bagiku
Dia pasti akan menjadi oksigen bagiku
Meneduhkan di setiap langkahku
Menjagaku saat tidur maupun terjaga
Aku harap Kau mau menjaganya di sisiMu selamanya
# FIN #




0 comments:
Post a Comment