Le Chemin Que J’ai Choisi
Aku datang untuk mencuri sejumput debu bernama kebahagiaan dari kalian. Ini untuknya, bukan aku.
# # #
"Noona, bertahanlah," aku menggenggam tangannya di mana tertancap jarum infus di
Ia tersenyum.
"Aku tidak akan memaafkannya kalau noona pergi meninggalkanku sendirian."
"Jangan minnie," ia berbisik lemah.
"Lalu? Kenapa dia meninggalkanmu ketika kalian akan menikah dua bulan lagi? Dia juga yang membuat kondisimu seperti sekarang. Aku akan melakukan sesuatu padanya."
"Aniyo." Suaranya hampir tidak terdengar.
"Kalau begitu, noona harus berjanji padaku untuk bertahan. Ya?"
Yun Hee noona mengangguk. Ia meraih tangan kiriku lalu menulis sesuatu di punggung tanganku.
"B? B for..... Blueberry?"
Ia tertawa kecil
"Apa noona gila? Kalau ketahuan dokter atau eomma bagaimana?"
Ia cemberut. Aku tidak pernah menang melawan Yun Hee noona.
"Baiklah, tapi aku juga minta ya."
Wajahnya berubah sumringah.
Aku beranjak dari dudukku tetapi Yun Hee noona menahan tangan kiriku. Aku menoleh. Ia tersenyum, tulus, indah sekali.
# # #
Yun Hee noona pasti senang sekali. Aku membelikannya es krim blueberry dengan ukuran bucket yang lebih besar dari biasanya. Aku tidak sabar melihat senyumnya. Senyum yang sama dengan yang terakhir kali ia perlihatkan padaku.
Aku memasuki lorong rumah sakit. Kamar rawat Yun Hee noona ada di ujung. Aku sudah bisa melihatnya dari sini. Eh, kenapa ramai sekali kamar Yun Hee noona? Perasaanku tidak enak. Benar saja, aku melihat eomma menangis tersedu-sedu. Aku segera menerjang pintu kamar rawat Yun Hee noona, tidak memperdulikan larangan dokter dan suster yang tidak memperbolehkanku masuk. Terpana, tepatnya aku shock melihat tubuh yang ditutup kain putih di atas ranjang. Aku menyibakkan sebagian kain yang menutupinya. Terdapat seraut wajah yang damai di
# # #
"Yun Hee noona."
"Yun Hee."
"Ya."
"Dari mana kau mengenalnya?"
"Itu tidak penting."
"Siapa kau?"
"Lupa hah? Atau memang sengaja melupakan?"
"Siapa kau?"
Aku menyibakkan sedikit rambut merahku. Ia terlihat berpikir.
"Tae Min?"
Pertanyaan retoris.
"Bukannya kau?"
"Sekolah di Amerika? Ya."
"Untuk apa kau menemuiku?"
"Nostalgia dengan mantan calon suami noonaku."
"Tidak mungkin."
"Tidak percaya hyung?"
"Kau telah merebut Dae Rin dariku."
"Tidak. Dia yang memilihku. Aku tidak pernah merebut siapapun dari siapapun."
"Dia tidak mungkin meninggalkanku."
"Yun Hee noona juga berpikir bahwa kau tidak akan meninggalkannya. Tetapi kenyataannya kau meninggalkannya demi Dae Rin."
Ia terdiam.
"Kau tahu? Kupikir Dae Rin tidak lebih baik dari Yun Hee noona, tetapi kau juga tidak lebih baik dari Dae Rin."
Tangannya mengepal.
"Apa tujuanmu?"
"Aku? Tidak ada."
"Balas dendam?"
"Tidak. Aku hanya ingin bersenang-senang."
"Kau pikir Dae Rin apa?!"
Ia melayangkan tangan kanannya yang terkepal tepat ke arah pipi kiriku. Asin.
Anyir. Cairan itu mengisi mulutku dan beberapa dari mereka menetes dari ujung bibirku. Wajahnya terlihat puas, ia lalu berbalik meninggalkanku dengan cairan yang sewarna dengan rambutku memenuhi mulutku. Tetapi aku menikmatinya, seperti aku menikmati semua permainan yang baru dimulai ini. Welcome to the game.
# # #
Tidak lebih dari tiga menit lagi ia akan keluar dari toko itu dan menyeberang jalan. Aku mulai menyalakan mesin mobilku. Benar saja, ia keluar dari toko dan berjalan menuju trotoar. Melakukan rutinitas yang sama setiap harinya itu bodoh, hyung. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaan aman sebelum menyeberang. Ia mulai berjalan. Aku memasukkan gigi satu dan menjalankan mobilku perlahan.
Kurang dua meter lagi, aku menekan klakson. Kita lihat, apakah kau bisa menghindar atau semua rencanaku berjalan mulus?Ia menoleh. Aku sedikit mencondongkan tubuhku ke depan agar ia bisa melihatku. Ia terlihat sedikit terkejut. Aku tersenyum ke arahnya, sepertinya perkiraanku tepat Eun Hyuk hyung, kau selalu bisa kubaca. Ia menggumamkan sesuatu, sesuatu seperti taemin kurasa. Selamat tinggal Eun Hyuk.
Aku menginjak pedal gas lebih dalam, menerjang tubuhnya yang langsung terpelanting entah ke mana. Tetap memacu mobilku tanpa mengurangi kecepatan sedikitpun. Hmm, ada sedikit bercak darah menodai kaca depan mobilku. Darah Eun Hyuk. Baguslah, tidak akan kubersihkan mungkin. Biar menjadi cindera mata terakhirnya untukku. Cindera mata yang manis, bukan?
# # #
Ia masuk ke dalam mobilku lalu menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang di sebelahku.
"Mianhae. Kau pasti menunggu lama."
"Kwenchana.
Ia mengobrak-abrik tasnya.
"Hmmm, kurasa tidak."
Aku menjalankan mobilku perlahan.
"Sebenarnya kita mau ke mana Tae Min? Kau menelepon mendadak sekali."
"Rahasia. Ini kejutan untuk noona."
"Aih, kau membuatku penasaran."
"Namanya juga kejutan. Kalau noona tahu lebih dulu kan tidak lucu."
"Tae Min, sudah kubilang. Jangan panggil aku noona lagi. Aku
"Arasseo noo... Ehm, Dae Rin."
"Ya, begitu lebih baik."
Ia tersenyum. Manis. Apakah senyum itu tidak akan pernah memudar?
# # #
"Apakah masih jauh?"
"Ya, mmm.. Tidak. Kita sudah lebih dari setengah jalan."
Tiba-tiba saja mesin mobilku mati.
"Aish! Bagaimana ini?"
"Tenang Tae Min. Ini
"Ide bagus. Sebentar, aku akan menelepon temanku dulu. Meminta bantuan."
Aku memencet beberapa keypad handphoneku.
"Sudah dekat. Sebentar lagi? Ya."
Aku menutup flap handphoneku.
"Ayo, aku tahu daerah ini. Ada tempat dengan pemandangan bagus di sekitar sini."
Tangannya menggandeng tanganku.
"Ayo."
# # #
"Waaah, bagus sekali! Semuanya hijau!"
Ia maju selangkah.
"Tapi jurangnya terlalu dalam."
"Eunhyuk hyung."
Ia langsung menoleh.
"Mwo?"
"Kau tahu kenapa dia meninggal?"
"Tabrak lari. Pelakunya tidak dapat ditemukan karena dia memakai plat palsu."
’Ya! Siapa orang bodoh yang mau menabrak orang dengan plat asli?’
"Hmm, sudahlah.. Itu masa lalu.. Sudah lama."
"Lalu kau tahu siapa yang membunuhnya?"
"Membunuh?"
# # #
"Tae Min, kau. Jadi.. Untuk apa?"
"Noonaku?"
"Noona?"
"Yun Hee noona."
"Kau? Balas dendam?"
"Tidak. Aku hanya melakukan apa yang telah ia lakukan pada Yun Hee noona. Supaya ia juga tahu tentang rasa sakit."
"Lalu?"
"Lalu? Kau tidak sadar? Dirimu terlalu polos, Dae Rinku sayang. Semuanya sandiwara, jelas. Aktingku bagus, bukan?"
"Tae Min.."
Suaranya bergetar, wajahnya memucat.
"Selanjutnya."
Aku mendekat ke arahnya. Mencium wangi rambutnya sekali lagi. Berbisik di telinga kanannya.
"Maaf."
Aku mendorong tubuhnya ke dalam jurang.
Ini agar kau merasakan angin apa yang mencabikku selama ini.
# # #
Penghuni ruangan pengap berukuran 3 X 3 itu akhirnya beranjak dari singgasananya di sudut ruangan. Seorang pemuda kurus berumur tak lebih dari tujuh belas tahun dengan rambut merahnya yang berantakan berjalan menuju sudut lain ruangan itu, melewati satu-satunya bagian dari ruangan itu yang diterangi cahaya tua matahari sore, berhenti sejenak di sana menatap matahari dengan rasa rindu yang amat sangat seolah matahari mewakilkan seorang yang akan ditemuinya sebentar lagi. Ia berpaling, menatap setiap sudut langit-langit dengan pandangan ketakutan. Dalam pikirannya, ada sepasang mata yang menatapnya lekat di ketiga sudut ruangan. Seorang perempuan dengan pandangan mengiba, seorang laki-laki dengan sorot mata penuh kebencian, dan yang terakhir seorang wanita dengan wajah pucat dengan tatapan penuh kerinduan. Tanpa mengindahkan itu semua, pemuda itu kembali berjalan menuju lemari reyot yang tidak lebih tinggi dari pinggangnya di sudut ruangan di mana tak ada satupun wajah di sana. Membuka pintunya, mengobrak-abrik isinya mencari sesuatu yang telah ia pikirkan selama seminggu ini. Memaksa kedua mata lelah dengan kantung hitam yang menggantung di bawahnya untuk menemukan harta karunnya. Benda tipis berwarna perak itu akhirnya ada dalam genggamannya. Ia membawanya ke bawah cahaya jingga matahari, mengangkatnya tinggi-tinggi. Tatapannya berkata inilah yang aku butuhkan sekarang. Ia mengelus-elus harta karunnya, mengagumi setiap cahaya matahari yang terpantul darinya dan mengindahkan setiap cacat yang ada di sana. Menurunkannya, pemuda itu menatap benda yang digenggamnya lurus-lurus. Menimbang sesuatu, keputusannya. Tujuannya berdiam di sana selama seminggu. Tak lebih dari tiga menit pemuda itu mendongakkan kepalanya, menegakkan badannya, raut wajahnya menjadi jauh lebih cerah meskipun mata merahnya tidak berubah sedikitpun. Ia menyunggingkan seulas senyum. Tanpa ragu-ragu menggoreskan benda perak itu ke pergelangan tangan kirinya. Dalam. Membuatnya ambruk seketika sementara pergelangan tangan kirinya terus mengeluarkan cairan pekat. Menidurkannya dalam genangan cairan pekat yang sewarna dengan rambutnya. Untuk selamanya.
And the sleeping prince is back to his deep sleep, children.
# FIN #
Le chemin que J’ai choisi = the path that I have chosen




0 comments:
Post a Comment