You
Aku berharap jawaban yang berbeda akan terlontar dari mulutmu untuk menjawab pertanyaan terakhirku.
# # #
"Jadi, kau akan meninggalkan desa ini?"
"Ya."
"Membiarkan boncengan sepedaku berdebu?"
"Ya."
"Mengosongkan keranjang sepedaku? Tidak akan mengisinya dengan bekal makan siang lagi?"
"Ya."
"Apakah termasuk mengikis hari-hari yang telah kita jalani bersama?"
".......Ya."
# # #
Tonight, I look at your face when you're sleeping
I wonder, will you shine my day with your smile tomorrow?
"Selamat pagi."
"Pagi," dia menjawab salam Ryeo Wook dengan malas.
"Hey, mukamu kusut sekali. Apakah belum ada kemajuan?"
"Belum. Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Tidak ada petunjuk sedikitpun tentang keberadaannya. Nihil."
"Aku mendapat info, katanya dia meninggalkan desa tiga tahun setelah kau pindah."
"Kau tahu ke mana dia?" wajahnya terlihat bersemangat.
"Tidak. Hanya itu yang kudapat. Mianhae."
"Gwenchana. Tidak usah minta maaf. Aku senang kau sudah membantuku mencari Hyuk Jae."
Deg! Selalu ada rasa yang berdesir dalam diriku setiap kali dia menyebut namaku. Rasa yang tidak pernah berubah selama tiga belas tahun. Desir yang mungkin tidak pernah dirasakannya saat bersamaku.
"Aku juga senang bisa membantumu," Ryeo Wook tersenyum, tetapi aku melihat gerakan rahangnya, mengeras saat mendengar namaku disebut tadi. Apakah? Apakah dia jtga menyukai Min Young?
# # #
Tonight, I listen to your voice
It feels like my dream is going closer in every second.
"Ayo cepat! Hari ini kita piket. Aku tidak mau dimarahi Hyuk Ji songsaenim karena kita berangkat kesiangan."
"I'm coming!"
Dia keluar sambil membawa dua buah kotak bekal di tangan kanannya dan menenteng sepasang sepatu di tangan kirinya. Dia berlari kecil ke arahku, meletakkan kotak bekal di keranjang lalu segera duduk di boncengan sepedaku.
"Pakai dulu sepatumu."
"Aku bisa memakainya sambil kau mengayuh sepedamu. Tenang saja. Ayo jalan," dia menepuk pelan punggungku.
"Terserah. Tetapi jangan banyak bergerak. Kita bisa jatuh nanti."
Aku mulai mengayuh sepedaku. Kami melewati persawahan sekarang.
Anginnya mulai kencang dan dia kelihatannya mulai kesulitan untuk memakai sepatunya. Aku mulai tidak bisa mengendalikan sepedaku.
"Min Young! Jangan banyak bergerak!"
"Aku tidak... Kyaaa!!! Hyuk Jae!"
Brugh!
Aku membuka mata. Dia jatuh tepat di atas tubuhku. Hidung kami bersentuhan. Wajahnya memerah. Lucu sekali.
"Oh, eh. Mianhae."
Dia bangkit lalu membersihkan seragamnya. Aku ikut bangkit.
"Emm... Hyuk Jae, di mana sepedamu?"
Aku melihat sekeliling.
"Omo! Itu dia. Lihat!"
Sepedaku masuk ke sawah, bekal kami berceceran. Tak lama kemudian tawa kami berderai. Di sela derai tawa kami, ia bertanya.
"Bagaimana kita bisa masuk sekolah hari ini?"
# # #
Tonight, I feel my life is uncompleted
I realize, it's because of you don't by my side
"Benarkah kau sudah mendapat informasi lagi, Ryeo Wook?"
"Ne. Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu sekarang."
"Ayo, aku tidak mau terlambat. Aku harus bertemu dengannya kali ini."
Aku di sini, Min Young. Apakah kau benar-benar tidak bisa merasakan di mana aku berada? Kau tahu, aku selalu ada di sisimu baik di saat kau terjaga maupun terlelap.
# # #
Tonight, I wanna hug you
Even my body as invisible as dust, I still need you
"Yeon Ra ahjumma."
"Ya. Siapa?"
"Saya Min Young, ahjumma."
Kulihat wajah eomma berubah mendung.
"Ehm, eh ya. Silahkan masuk, Min Young dan..."
"Ryeo Wook."
"Ryeo Wook ssi. Duduk, duduk. Anggap saja rumah sendiri. Sebentar, kalian tunggu dulu."
Eomma berjalan menuju dapur. Mungkin membuatkan minum. Tidak lama kemudian, eomma kembali dengan nampan berisi tiga gelas minuman dan makanan kecil.
"Ada apa Min Young?"
"Begini ahjumma, saya ingin bertemu dengan Hyuk Jae. Apakah dia ada?"
Eomma tercekat.
"Hyuk Jae. Dia... Hyuk Jae sudah meninggal dua bulan yang lalu."
Tangisnya pecah. Aku ingin memeluknya tetapi aku tidak bisa. Kini ia ada dalam pelukan Ryeo Wook. Mianhae, Min Young. Aku telah membuatmu menangis histeris seperti itu. Seandainya waktuku untuk bersamamu lebih lama.
# # #
Tonight, I smell your body scent
And I fill my lungs with your scent
Aku memejamkan mata, merasakan hangatnya butir-butir pasir pantai di punggungku, mendengar damainya deburan ombak dan mencium harum rambutnya yang samar terbawa oleh angin laut. Aku menikmati ini. Semuanya.
Tiba-tiba jemarinya menggelitik jari-jari tangan kananku, menggandengnya.
"Hyuk Jae."
Mataku masih terpejam, tetapi ada sesuatu yang beredesir jauh di dasar hatiku.
"Ne."
"Apakah kau menyayangiku?"
DEG!
"Tentu saja."
"Seperti apa rasa sayangmu itu?"
Aku membuka mata, memutar tubuhku menghadapnya. Membiarkan hangatnya pasir meresap ke pipi kananku.
"Itu seperti aku akan menjadi payung ketika rintik hujan coba menyentuhmu. Seperti mantel yang akan melindungimu dari dinginnya angin musim gugur. Lalu aku akan menggenggam tanganmu seperti ini di saat kau jatuh agar kau merasa lebih baik."
Aku mempererat genggaman tanganku. Sempat kulihat semburat merah muncul di wajahnya. Hanya sekilas.
"Dan seperti apa rasa sayangmu kepadaku, Min Young?"
"Mmm.. Seperti... Ini."
Dia menarik tanganku untuk berdiri lalu memelukku.
"Aku akan memberikan seluruh cahaya yang kumiliki untuk menerangi bagian dari dirimu yang meredup dan cahayaku untukmu tidak akan pernah habis. Errr.... Itu seperti aku akan membuatkan bubur dan menyelimutimu saat kau sakit. Aku akan menyatukakan kembali serpihan-serpihan hatimu saat ia hancur karena sakitnya mencintai...."
Ucapannya menggantung. Aku menunggu.
"Kau seperti saudara bagiku. Aku hanya tidak ingin kau terluka."
Min Young, apakah kau melihatnya? Hatiku hancur karena mendengarnya. Anganku bahwa kau memiliki rasa yang sama denganku ternyata terlalu tinggi. Sekarang, bagaimana kau bisa menyatukan serpihan hatiku jika hatiku hancur karena sakitnya mencintaimu.
# # #
Tonight, the stars are shining
Everything will be alright because they shine for you
"Masih lama?"
"Bersabarlah, aku hanya membuat sketsa kali ini. Lain kali aku tidak akan mengajakmu lagi kalau kau bosan menungguku melukis."
"Mengapa kau melukis
"Eh?"
Aku menghentikan gerakan tanganku di atas kanvas.
"Kau menyukai bunga matahari, bukan? Kita berada di tengah padang bunga matahari sekarang. Biarkan mereka mendengar apa alasanmu untuk menyukai mereka."
"Karena mereka setia. Mereka setia kepada matahari. Bunga matahari selalu mengikuti ke mana arah matahari bergerak. Setia. Saat bulan menggantikan matahari, mereka memilih untuk tidur dan terus menanti hingga matahari kembali. Tidak terpikir sedikitpun di benak mereka untuk berselingkuh dengan bulan. Itulah yang aku kagumi dari mereka. Hey, bukannya kau juga menyukai bunga matahari? Katakan mengapa, agar mereka juga bisa mendengarnya," aku mengembalikan perkataannya.
"Aku menyukaimu."
Aku tercengang.
"Aku menyukai mereka karena mereka sepertimu. Setia, angkuh, tetapi selalu dapat membuatku merasa lebih baik."
# # #
Tonight, I draw the sky
And look, the moon smiles for you
Eomma kembali ke belakang. Kali ini masuk ke dalam kamarku. Eomma kembali sambil membawa sebuah kanvas.
"Min Young, Hyuk Jae berpesan bagaimanapun caranya, kanvas ini harus sampai ke tanganmu."
Dia menerima kanvas yang disodorkan eomma lalu membaliknya, melihat apa yamg terlukis di
Lukisan itu. Lukisan padang bunga matahari yang dia inginkan. Tempat di mana kami menghabiskan sebagian besar kebersamaan kami. Di mana ada hari saat aku menyadari bahwa aku memberinya tempat tersendiri di hatiku.
# # #
Tonight, I want to say goodbye
I’ve find a place where I supposed to be
Dia datang ke sini untuk pertama kalinya. Dia datang bersama Ryeo Wook. Sorot matanya tidak seceria seperti saat aku bersamanya. Dia meredup.
"Bicaralah," Ryeo Wook menepuk pundaknya pelan.
Dia berjalan mendekat lalu berlutut dan berbisik di nisanku.
"Hyuk Jae, mengapa tidak ada yang memberitahuku tentang hal yang kau alami ini?"
Suaranya semakin serak. Dia menarik nafas dalam sebelum kembali berbicara.
"Lebih dari lima tahum aku mencarimu. Butuh lebih dari lima tahun aku mencarimu. Butuh lebih dari sekedar kesabaran hingga aku di sini sekarang. Kau tahu mengapa aku mencarimu? Karena aku mencarimu. Aku ingin mengatakannya sebelum semua terlambat, tetapi yang kutakutkan telah terjadi. Aku sudah tidak bisa bertemu denganmu lagi sekarang. Sekalipun kau tidak merasakan hal yang sama, setidaknya aku tidak akan tersiksa karena memendam perasaan ini sendiri. Aku hanya ingin kau tahu bagaimana perasaanku tanpa merubah hubungan kita. Kebersamaan kita merupakan hal yang paling berharga. Aku tidak akan pernah melupakannya, juga melupakanmu. Tempatmu di hatiku tidak akan pernah berubah, aku akan menempatkan Ryeo Wook di sisi yang berbeda darimu. Ryeo Wook, dia yang akan menjagaku mulai hari ini."
Dia meletakkan setangkai bunga matahari di dekat nisanku.
"Sunflower. Just like you. Terima kasih, Hyuk Jae."
Dia bangkit dan menghampiri Ryeo Wook, menepuk punggung Ryeo Wook pelan.
"Sudah selesai. Ayo pulang."
"Ya."
Sebelum berjalan pulang, dia berbalik menghadap nisanku dan tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya, entah dia dapat melihatnya atau tidak. Kurasakan angin menembus tubuhku sekarang. Tubuhku menipis. Sebagian telah berubah menjadi kilauan debu yang terbawa oleh angin ke atas sana. Aku akan menjadi serbuk bintang yang terus melihatmu dari gulita langit malam. Mendongaklah Min Young, dan kau akan melihat senyumku di sana.
# FIN #



