[FF] Way To Go

Way To Go

Di sini anginnya kencang sekali. Lebih baik aku ke bawah. Tetapi aku sudah terlalu lelah untuk turun. Mungkin dengan menyerahkan tubuhku kepada angin, aku akan lebih cepat sampai ke bawah.

# # #

Huft, akhirnya sampai juga. Aku bisa meneruskan hobiku tidur siang di atap toko tanpa dimarahi appa. Tetapi anginnya kencang sekali, mungkin hari ini aku harus mencari tempat lain untuk tidur siang. Mataku menangkap sosok seorang gadis. Jarang sekali ada orang di sini. Sedang apa dia di sini? Kenapa di berdiri terlalu tepi? Dia kan bisa jatuh. Oh, mungkin dia mau bunuh diri. Eh? Bunuh diri? Aku refleks berlari ke arahnya. Menyambar tubuhnya yang benar-benar nyaris jatuh.

Buk! Dia jatuh menimpaku. Dia bangkit, aku juga. Ugh perih, pasti sikuku lecet-lecet sekarang.

“Hey! Apa yang kau lakukan di atap toko appaku? Kalau mau bunuh diri jangan di sini, aku tidak mau tempat ini menjadi berhantu. Lagipula hidup terlalu berharga untuk ditinggalkan, bukan?”

“Menasehati orang yang mau bunuh diri. Apa maumu sekarang? Mau jadi sok pahlawan?” ia marah-marah kemudian berlalu meninggalkanku yang masih agak shock.

“Wooy!! aku kan hanya tidak ingin tempat tidur siangku berhantu. Apa itu salah?” teriakku.

Dia terus berjalan, tak ada respon. Ya sudahlah, terserah. Toh, aku juga tidak mengenalnya. Aku berbalik, menengadah. Langit mendung, sebaiknya kuurungkan niatku tidur siang dan segera pulang. Buk! Ha? Suara apa itu?aku berbalik, gadis itu tergeletak di sana. Aku mendekat, megguncang pelan tubuhnya.

“Hey, bangun. Ayo bangun.” Dia tidak bergeming. Kutepuk pelan pipinya. Masih tidak ada respon. Hmmm, sepertinya gadis ini pingsan dengan sukses.

“Merepotkan saja.”

# # #

Pusing, aku membuka mataku. Di mana ini? Aku sama sekali tidak mengenal tempat ini.

“Kau sudah bangun rupanya.” Sebuah suara mengagetkanku. Seorang laki-laki yang kelihatannya seumuran denganku mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur.

“Ini apartemenku. Kau pingsan tadi siang. Alamat rumahmu jauh sekali. Jadi kubawa kau ke sini saja.” Aku berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

“Kenapa bengong? Kau tidak ingat aku” aku berpikir sejenak.

“Oh, aku yang membuatku tidak jadi bunuh diri tadi siang ya?” ia menggeser duduknya menjauh dariku.

“Jangan marah-marah lagi.”

Aku tertawa kecil.

“Iya. Mian, tadi aku emosi sekali.”

“Ya sudah. Tidurlah, ini sudah malam besok kau akan kuantar ke stasiun pagi-pagi.”

“Tapi aku lapar.”

“Ha ha ha. Kau ini memang benar-benar merepotkan.”

# # #

Agh, hari Senin. Gadis aneh itu sudah kuantar ke stasiun kemarin. Tetapi dia tidak mau pulang, katanya dia sedang kabur dari rumah. Bagaimana dia sekolah coba? Huft, entahlah. Aku meraba-raba meja kecil di sebelah tempat tidurku, mencari handphone. Eh? Apa ini? Dompet? Milik siapa? Kubuka dompet itu. Kubaca karu tanda pengenalnya. Milik gadis aneh itu. Rumahnya kan jauh, lagipula kemarin dia berkata dia sedang kabur dari rumah. Bagaimana aku mengembalikan dompet ini ya? Sekolah. Aku mengeluarkan semua isi dompetnya, mencari kartu pelajar. Ketemu. Lumayan jauh dari sekolahku. Tapi apa boleh buat, aku harus mengembalikan dompet ini.

# # #

“Jessica! Ada yang mencarimu.”

“Mwo? Nugu?”

“Tidak tahu. Anak sekolah lain. Laki-laki. Dia menunggumu di gerbang.”

“Baiklah. Aku ke sana sekarang. Aku pulang duluan ya.”

Laki-laki? Siapa ya? Aku rasa aku tidak pernah berurusan dengan anak sekolah lain. Aku celingukan. Itukah? Hey, rasanya aku mengenal mobil itu. Bukankah dia yang… tiba-tiba ia berbalik dan tersenyum begitu melihatku. Aku menghampirinya.

“Yang kemarin kan? Ada apa?”

“Aku cuma ingin mengembalikan ini,” ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Ah, dompetku. Gamsahae. Aku mencarinya dari kemarin.”

“Ne, kau sudah sangat merepotkanku. Tidak enak kan kalau aku tidak mengetahui namamu?” ia mengulurkan tangannya. Aku menjabatnya.

“Jessica.”

“Jonghyun.”

Tiba-tiba ia menarikku masuk ke dalam mobilnya, mendudukkanku di kursi sebelah kanan, menutup pintunya, lalu masuk lewat pintu sebelah kiri dan menjalankan mobilnya.

“Mau kau bawa kemana aku?”

“Sudahlah, ikut saja. Tenang, aku tidak akan macam-macam.”

# # #

“Untuk apa kau membawaku ke sini?” nada bicaranya terdengar sedikit ketus.

“Tidak untuk apa-apa. Hanya ingin mencari teman tidur siang,” aku mencari tempat yang agak teduh lalu berbaring. Ia duduk di sebelahku.

“Terlambat untuk tidur siang. Ini sudah sore.”

“Tetapi kemarin kau ingin memulai tidur panjangmu dari sini kan?” ia terdiam. Aku mengubah posisiku menjadi duduk. Ia menghela nafas.

“Aku ingin merasakan mati.”

“Mati? Iya ya, bagaimana ya rasanya mati?” pandangannya semakin menerawang.

“Tapi tubuhku terlalu berat.”

“Terlalu berat untuk?”

“Masuk surga tentu saja.”

“Mengapa kau berpikiran seperti itu? Tidak ada yang memberatkan Tuhan.”

“Aku dulu pecandu.Oppaku yang memulainya. Sejak kematian appaku, eomma mulai jarang pulang. Oppaku terlibat kasus-kasus narkoba dan terlilit hutang hingga dia menyeretku dalam kawasannya demi mendapat uang tambahan demi menutup semua hutangnya. Walaupun telah mendapat pelanggan tetapnya, yaitu aku. Oppa tidak bisa membayar hutangnya. Hingga ia akhirnya menghabiskan semuanya. Dia mati. OD dua bulan yang lalu. Aku takut, aku tidak mau berakhir seperti itu.”

“Oh.”

“Masih mau dekat-dekat denganku?”

“Tentu saja. Tidak pengaruh bagiku bagaimana masa lalumu, keluargamu, maupun masalahmu. Yang penting adalah dirimu sekarang. Kau mau berubah, itu bagus.”

Ia menoleh, sedikit terkejut. Lalu tersenyum.

“Well, kau bisa menjadi apapun yang kau mau sekarang jika kau benar-benar ingin melakukannya. Jalanmu masih sangat panjang. Kau harus memanfaatkan umur yang diberikan Tuhan kepadamu dengan baik,” ia memelukku. Aku tidak bisa menolak.

“Gamsahae.”

“You don’t have any place to go.”

# # #

Sudah tiga bulan aku mengenalnya. Tidak tahu juga sejak kapan aku mulai merasakan perasaan yang menyenangkan ini. Yang pasti dia membawa pengaruh yang sangat baik untukku. Motivator terbesar untukku melanjutkan hidup, menata kembali setiap langkahku.

# # #

Langit begitu cerah hari ini. Secerah hidupku selama tiga bulan terakhir. Senyumnya selalu berhasil menyinari langkahku, mengalihkan perhatianku dari kabut yang selama ini menyelubungiku.

Seseorang menutup mataku dari belakang.

“Sica, aku sedang menikmati lagit hari ini. Jangan menggangguku,” ia melepaskan tangannya lalu duduk di sebelahku. Cemberut.

“Ya! Bagaimana hari ini? Semuanya baik-baik saja? Ada yang perlu kubantu lagi?”

“Semuanya baik. Hmmmm… tidak ada sesi konsultasi kalau begitu?”

“Kurasa begitu. Dengarkan ini.”

# # #

“Kurasa begitu. Dengarkan ini.”

Ia memberikan salah satu earphonenya kepadaku. Aku memasanganya di telinga kananku. Ia menekan tombol play, terdengar suara piano

One day in your life

“Ya! Ini suaramu.” Ia menatapku, tersenyum. Matanya seakan mengatakan dengarkan-saja-nanti-kau-akan-tahu.

One day in your life
 You'll remeber a place
Someone touching your face
You'll come back and you'll look around you'll
 
One day in your life
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
 I will stay in your heart
 And when things fall apart
You'll remember one day
 
  
One day in your life
When you find that you're always waiting
 For a love we used to share
 
Just call my name, and I'll be there       
You'll remember me somehow
Through you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day
 
One day in your lfe
When you find that you're always lonely
For a love we used to share
Just call my name and I'll be there
 

Lagunya berhenti. Ia melepas earphonenya lalu beranjak dari duduknya dan berlutut di hadapanku.

“3 months ago, I found my love here. She talked a lot about her life, but nothing about her heart. And now, I want to know what does she feel. What do you think?”

“I think she loves you too. Nado sarangahae Jong Hyun.”

Jong Hyun memelukku.

“Aku akan mengingatmu. Selamanya.”

Tiba-tiba tubuhnya terasa berat. Nafasnya tersengal-sengal. Ia melepaskan pelukannya. Memegang dadanya sambil menahan sakit.

“Am…bu…lan.”

# # #

Jong Hyun, kau kenapa? Penyakit apa yang sebenarnya kau derita?

Seseorang menepuk bahuku.

“Kau yoja chingunya Jong Hyun ya?”

“Ne, apakah ahjusshi ini appanya Jong Hyun?”

“Iya. Kau terlihat terkejut sekali. Apakah Jong Hyun tidak menceritakan apapun kepadamu?”

“Menceritakan tentang apa ahjusshi?”

“Tentang penyakit yang dideritanya.”

“Memangnya Jong Hyun sakit apa?”

“Dia menderita kelainan jantung sejak lahir.”

Aku menggigit bibir bawahku, menahan air mata. Kau selalu jadi pendengar yang baik untukku. Tetapi kenapa aku tidak mengetahui apapun tentangmu, Jong Hyun?

“Tetapi tenang saja. Dokter bilang jantungnya masih bisa bertahan hingga ia berumur 27 tahun. Dia pasti baik-baik saja di dalam.”

“Saya harap juga begitu.”

“Ahjusshi ingin berterima kasih kepadamu. Karena kamulah, Jong Hyun bisa sedikit melupakan penyakit yang sudah dideritanya seumur hidup. Ia lebih sering tersenyum tiga bulan terakhir ini.”

“Tidak usah begitu ahjusshi. Jong Hyun juga banyak membantu saya.”

Tiba-tiba dokter keluar dari ruang UGD dan segera menghampiri kami.

“Maaf, kami sudah berusaha dengan maksimal, tetapi jantungnya sudah tidak dapat bertahan lagi. Sekali lagi kami minta maaf.”

Pertahananku runtuh, tangisku pecah. Jong Hyun, mengapa kau pergi tiba-tiba seperti ini? Kau menghempaskan aku begitu keras. Kau tahu, ini terlalu sakit. Aku tidak bisa menanggungnya sendirian. Kurasakan seseorang menupuk pundakku lembut, berusaha menguatkan. Setelah itu, aku tidak tahu apa-apa lagi.

# # #

Dia kembali datang keatap toko berlantai tiga itu sendirian. Ia selalu datang ke sana selama jam tidur siang. Ia duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya, mulai untuk berbicara, bercerita tentang hidupnya. Berbicara kepada angin karena tak seorangpun ada di sana. Ia lalu bernyanyi kecil, lagu yang sama dengan yang diperdengarkan pertama dan terkahir kalinya oleh orang yang sangat dicintainya dan belum bisa dilupakannya hingga detik ini walaupun orang itu telah meninggalkannya lebih dari dua tahun yang lalu. Setelah menyelesaikan nyanyiannya, ia akan terdiam. Matanya menerawang da ia bergumam akan hal yang sama. Kira-kira begini

“Kau bilang kau akan mengingatku selamanya, mengapa kau tidak pernah datang?”

Setalah itu, ia akan duduk diam di sana. Mengenang masa-masa kebersamaannya yang singkat bersama dengan orang yang dicintainya. Satu jam kemudian, ia akan pergi dengan senyuman tersungging di bibirnya seolah semua masalahnya telah terselesaikan.

# FIN #

0 comments:

Post a Comment

My Plurk

About Me

My photo
sragen, jawa tengah, Indonesia
Nothing special about me. Just a girl who loves sky, star,writing and dreaming everyday.

chat here


ShoutMix chat widget

SHINee


My Visitors

who's online

FEEDJIT Live Traffic Feed

FEEDJIT Live Traffic Map

About this blog

Banner

Freaky Fictie ”F(4)’fanfic