Sarangae Gil
“Pagi chagiya,” seseorang memeluk pinggangku dari belakang saat aku sedang memasak.
“Pagi juga my hubby.”
Ia meletakkan dagunya di pundak kananku.
“Hari ini kita sarapan apa?” belum sempat aku menjawab pertanyaanya, kami dikejutkan oleh sebuah suara.
“Ciiiee.. yang pengantin baru. Mesranya..” Key otomatis melepaskan pelukannya. Onew oppa sudah duduk di minibar yang membatasi dapur dan ruang makan, memandangi kami sambil tersenyum. Mendapat tontonan gratis di pagi hari.
“Onew hyung.”
“Ha ha. Tidak usah sungkan. Kalian
“Jangan begitu. Hyung membuat wajah Rae Won semerah tomat sekarang. Lagipula, hyung mau apa kemari?”
“Jadi aku tidak boleh berkunjung ya?” Onew oppa bertanya dengan tampang sok imut.
“Bukan begitu. Tidak biasanya hyung berkunjung sepagi ini.”
“Aku tidak mau saja tanggal rilisnya albumku terlambat karena teman duetku terlalu sibuk bermesraan dengan istrinya. Selain itu.. ehm, isi kulkasku kosong, jadi aku mau menumpang sarapan sekalian. He he.”
“Chagiya, tambah sarapan untuk satu orang lagi.” Kata Key lalu menggiring Onew oppa menuju meja makan. Huuu, merepotkan saja.
“Sarapan datang,” aku membawa nampan berisi sarapan untuk tiga orang yang disambut dengan senyuman lebar di wajah Onew oppa yang langsung melahap makanannya dengan wajah gembira.
“Enak sekali,” katanya dengan mulut penuh sambil mengacungkan jempolnya.
“Makanya, hyung cepat-cepat cari istri agar bisa dimasakkan setiap hari.”
“Bagaimana aku mau cari istri, pacar saja aku tidak punya. Kalau masalah makanan, aku menumpang makan di sini saja.”
PLETAK! Sebuah sumpit melayang ke kepala Onew oppa.
“Hoh, hyung. Lama-lama sumpitku bisa rusak kalau kau makan di sini setiap hari.”
“Terang saja sumpitmu rusak. Kau melemparnya sembarangan,” Onew oppa mengusap kepalanya yang terkena hantaman sumpit Key.
Sebelum terjadi perang, aku segera memisahkan mereka.
“Sudah, sudah. Tidak usah bertengkar,” kataku sambil membereskan meja makan.
“Chagiya, giliranmu mencuci piring. Aku berangkat kerja dulu ya,” kataku lalu mencium pipi Key.
“Dadah Onew oppa.” Aku meninggalkan ruang makan.
“Kenapa aku tidak dicium?” teriak Onew oppa. Aku hanya melambaikan tangan sambil berlalu. Terdengar suara sumpit jatuh dan Onew oppa yang mengaduh kesakitan. Dasar.
# # #
Setumpuk desain masih betah bersarang di atas meja kerjaku, menunggu untuk diselesaikan. Gara-gara terlalu sibuk mempersiapkan pernikahanku dengan Key, banyak perkerjaan tertunda. Bahkan kami belum sempat bulan madu.
“Annyeong Rae Won onnie.”
“Annyeong Hye Jin. Taruh saja di mejaku.”
“Yang ini harus diselesaikan dua minggu lagi. Apakah onnie lembur hari ini?”
“Dengan amat sangat terpaksa, ya. Selama seminggu.”
“Akan kubantu onnie. Hwaiting.”
“Gamsahae Hye Jin.”
Aku mengirim pesan kepada Key.
To : ♥ Key hubby ♥
Aku lembur hari ini. Makan di luar yah chagiya.
Luv u.
# # #
Seseorang menepuk bahuku.
“Ya! Kenapa hari ini kau tidak bisa konsentrasi?”
Aku menunjukkan SMS dari Rae Won.
“Hoo.. pengantin baru yang merana. Kalian bahkan belum sempat bulan madu kan?”
Aku hanya bisa mengangguk lesu.
“Konsentrasilah. Masih satu lagu yang belum selesai. Ayo makan siang dulu. Kita harus rekaman lagi setelah makan siang.”
# # #
Aku membuka pintu rumah. Sudah gelap, pasti Key sudah tidur. Aku masuk ke dalam kamar. Melihatnya tidur seperti ini membuatku tenang. Wajahnya damai sekali.
It’s song for my juliette~
Handphone Key berdering. Aku mendekati Key, mengguncang tubuhnya pelan.
“Chagiya, ada telepon.” Key mengerang pelan.
“Terima saja Rae Won.” Ia lalu berbalik melanjutkan tidurnya.
Handphonenya terus berdering. Bagaimana ini? Apa aku harus mengangkatnya? Mana dari nomor tidak dikenal lagi. Huft, akhirnya aku mengangkatnya. Terdengar suara seorang wanita.
“Chagiya, lama sekali kau mengangkatnya. Apa kau sudah tidur?”
“Maaf anda salah sambung.”
Apa ini maksudnya?
# # #
Rae Won masih bersiap untuk berangkat kerja. Dia sangat sibuk sejak kami menikah. Kuakui, persiapan untuk pernikahan kami memang sangat merepotkan. Pekerjaanku juga banyak terganggu. Bahkan, single milik Min Ho tanggal rilisnya juga diundur satu minggu. Belum lagi album Onew hyung yang pengerjaannya sengaja diundur agar aku bisa menikah dulu. Rae Won masih belum turun, biar aku saja yang menyiapkan sarapan.
“Chagiya, ya ampun. Tidak usah menyiapkan sarapan. Itu kan kewajibanku.”
“Tidak apa-apa. Lagipula sudah selesai ini,” kataku sambil menata sarapan di meja makan. Rae Won lalu duduk dan mulai memakan sarapannya.
“Apakah hari ini kau lembur lagi?”
“Dengan terpaksa iya. Pekerjaanku menumpuk, masih banyak sekali.”
“Kau selalu saja sibuk.”
“Ini kan juga karena persiapan pernikahan kita.”
“Jadi kau menyalahkan pernikahan kita? Aku kan sudah bilang, biar EO saja yang mengurus semuanya. Tapi kau tidak mau.”
“Tapi..” ia terdiam. Meletakkan sumpitnya lalu beranjak.
“Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu, chagiya. Aku berangkat dulu,” ia mencium pipiku sekilas dan keluar meninggalkan rumah.
‘Apa dikiranya aku juga tidak capek?’
# # #
“Annyeong.”
“Annyeong,” sapa lima suara bersamaan. Aigo, semua member SHINee berkumpul di rumahku? Padahal aku capek sekali hari ini.
Key mencium pipiku.
“Oso oseyo chagiya,” aku tersenyum tipis. Mengangguk pada member lainnya.
“Aku masuk dulu ya,” aku melambaikan tangan lalu naik ke lantai atas tanpa ikut ngobrol-ngobrol seperti biasanya.
Setelah berganti pakaian, aku merebahkan diri di tempat tidur. Kepalaku rasanya berputar, pusing sekali. Key masuk ke dalam kamar lalu berbaring menghadap ke arahku.
“Member yang lain sudah pulang?”
“Sudah. Baru saja. Kenapa kau apatis sekali hari ini chagiya?”
“Aku pusing sekali. Pembuluh nadi di otakku rasanya mau pecah rasanya.”
“Tetapi kau kan tidak perlu bersikap seperti itu. Membuat yang lain merasa tidak enak. Jangan egois.”
“Aku egois? Kalau begitu bagaimana denganmu?! Kau menyuruhku tersenyum tanpa peduli akan kondisiku. Apa itu namanya kalau tidak egois, hah?!” suaraku meninggi. Emosiku benar-benar tersulut.
“Ya! Tidak usah emosi seperti itu. Aku hanya memberi saran. Terserah mau diterima atau tidak.”
“Lihat aku! Apakah mataku berbinar seperti biasanya? Apakah bibirku menyunggingkan senyum seperti biasanya? Senyum yang selalu kau sukai?”
“Tidak. Bahkan selama lebih dari sepuluh tahun aku mengenalmu, kau tidak pernah bicara dengan nada seperti itu padaku.”
“Chagiya, kau membuat moodku benar-benar hancur hari ini. Jangan terlalu banyak perintah. Kepalaku mau meledak.”
“Begitu? Menurutmu aku diktator? Mengekangmu? Jadi kau menyesal messsshhh….”
Aku tidak bisa mendengar dengan jelas lagi apa yang dikatakan Key. Suaranya lama-lama berubah menjadi desisan di telingaku. Kurasakan key mengguncang-ngguncag tubuhku berusaha membangunkan. Samar-samar kudengar suara umpatan dan pintu kamar yang dibanting dengan keras.
# # #
Telepon, enggak, telepon, enggak, telepon, enggak. Haduh, bagaimana ini? Telepon enggak ya? Ah, telepon saja. Daripada suasana semakin tidak enak.
The number you are calling is..
Sudah lebih dari sepuluh kali aku mencoba menghubungi Key tetapi nomornya tidak aktif. Baiklah, akan kucuba menghubunginya sekali lagi. Kalau tidak bisa ya sudahlah. Hmmmm, tersambung.
“Yoboseyo.” Hah, suara wanita?
PIP. Refleks kuputuskan sambungan telepon. Gila! Siapa wanita ini?
Drrrtt… drrrtt…
♥ Key hubby ♥ calling..
“Yoboseyo.”
“Rae Won? Ada apa?”
“Hari ini aku bisa pulang cepat. Mau makan malam apa?”
“Chagiya, mianhae. Hari ini aku yang pulang terlambat. Mianhae.”
“Siapa itu?”
“Ah, itu.. itu.”
“Key, siapa itu?”
“Yoja chingunya Jong Hyun hyung.”
“Oh, jadi yoja chingunnya jong hyun oppa memanggilmu chagiya, meneleponmu tengah malam, serta mengangkat telepon masuk di handphonemu. Begitu?”
“Menelepon tengah malam? Apa maksudmu?”
“Dua hari yang lalu… terserahlah, aku tidak ingin bertengkar lagi.”
“Bertengkar? Selalu kau yang memulainya, bukan aku.”
“Terus? Kau menyalahkanku?”
“Bukan begitu. Tapi…”
“Tapi apa?”
PIP..
Sambungan diputus. Menyebalkan.
# # #
“Terus? Kau menyalahkanku?”
“Bukan begitu. Tapi…”
“Tapi apa?”
PIP..
Cih! Handphoneku mati.
Onew hyung duduk di sebelahku
“Ada apa lagi?”
“Dia mengamuk karena yoja chingunya Jong hyun hyung yang mengangkat telepon.”
Jong Hyun hyung yang mendengar namanya disebut menyeruak di antara kami.
“Oh iya Key, mianhae. Tadi aku yang menyuruhnya mengangkat telepon saat kau sedang ke kamar mandi. Beberapa hari yang lalu dia juga sempat bercerita padaku dia salah meneleponmu, dan yang mengangkat telepon adalah istrimu. Dia minta maaf.”
Menelepon? Pantas saja.
“Kalian belum genap seminggu menikah, tetapi sudah bertengkar seperti ini. Dan ini sudah kedua kalinya kalian bertengkar.”
“Lalu aku harus bagaimana hyung?”
“Kau harus bicara dengannya. Lupakan egomu.”
# # #
Aku menunggu Key pulang. Sudah hampir jam sebelas. Kenapa dia belum pulang juga ya? Makanan di meja sudah dingin belum tersentuh. Terdengar pintu dibuka.
“Annyeong.”
“Oso oseyo. Chagiya, kau sudah makan?”
“Sudah. Memang kenapa?”
“Tidak apa-apa,” aku bangkit dari tempat dudukku menuju tangga, tetapi Key menahan tanganku.
“Kenapa?”
“Apa?”
“Kenapa kau jadi seperti ini? Tidak begitu perhatian, tidak pernah tersenyum. Apatis.”
“Aku sedang tidak ingin membicarakan ini, Key. Kepalaku pusing. Biarkan aku tidur, ok?”
“Tidak. Kita harus bicara.” Ia mencengekeram tanganku semakin kuat.
“Key, aku mohon,” dia tidak bergeming.
“Baiklah. Apa yang harus kita bicarakan sekarang?”
“Kau uring-uringan terus sejak kita menikah. Ada yang salah?”
“Pekerjaanku menumpuk. Aku harus menyelesaikannya sekarang.”
“Jangan mengalihkan topik pembicaraan. Apa semua ini gara-gara pernikahan kita?”
“Tidak. Ehm, ya.sekarang aku harus menyelesaikan desain-desain itu. Mrs Cho akan dengan senang hati menggantikanku dengan orang lain kalau semua itu tidak selesai. Cukup kan? Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi kurasa, lagipula kau sibuk dengan ‘dia’ kan?”
“Dia? Dia siapa”
“Perempuan tadi.”
“Sudah kubilang, dia itu yoja chingunya Jong Hyun hyung. Hey! Kita sedang membahas pernikahan kita, bukan hal lain.”
“Ya, pernikahan yang membuatku hampir gila.”
“Apa maksudmu?”
“Pernikahan kita membuat pekerjaanku menumpuk. Banyak sekali. Aku lelah, secara fisik maupun pikiran.”
“Kau pikir hanya dirimu yang lelah? Aku juga! Lihat single Min Ho yang terlambat rilis, maupun album Onew hyung yang sengaja diundur pengerjaannya. Itu juga karena pernikahan kita. Aku capek. Aku merasa sangat bersalah kepada mereka.”
“Munngkin lebih baik kita memang tidak menikah saja.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
“Jadi kau menyesal menikah denganku?”
“Ya.”
PLAK!
Pelipis kiriku seperti dihantam sesuatu. Pandangan mata kiriku mulai buram, lalu Key sudah tidak terlihat lagi.
# # #
Aku bangun. Hangat sekali, Key memelukku. Apakah ia memelukku seperti ini semalaman?
Aku menggeliat.
“Jangan, jangan pergi. Biarkan seperti ini.”
Aku menurut saja, kembali menyelami alam mimpi yang sejenak kutinggalkan.
# # #
Key sudah tidak ada di sampingku. Aku membereskan tempat tidur lalu menuju meja makan. Sudah ada sarapan di sana, tetapi ada stangkai bunga tulip putih dan note kecil :
I never hurt you again
Key
# # #
You’re like oxygen for me
Key
# # #
So baby I breath
Key
# # #
You keep me alive
Key
# # #
You’re my fate
Key
# # #
I’ll wait for you until the end
Key
Ini sudah hari ketujuh kami tidak bicara dan aku mendapat note yang kukira jika dirangkai akan membentuk sepotong puisi. Aku menyusun note-note yang diberikan Key di atas meja kerjaku. Dia tidak berubah, tidak ada kata saranghae maupun I love you di dalamnya.
Drrrtt… drrrtt..
Minnie-ah calling..
“Yoboseyo.”
“Yoboseyo Rae Won noona. Cepat datang ke taman dekat rumah Rae Won noona. Key hyung kecelakaan.”
“Ne. aku ke
# # #
Kecelakaan? Mana? Tidak ada apa-apa di sini. Damai seperti biasa. Pabo! Tidak mungkin ada kecelakaan di dalam taman Rae Won. Kau dibohongi Tae Min. Aku terus masuk ke dalam taman mencari Tae Min. Handphoneku tertinggal di kantor. Aku tidak bisa menghubunginya.
Key? Sedang apa dia di
“Rae Won, akhirnya kau datang.” Sudah terlambat untuk kabur.
“Apa maksudmu menyuruh Tae Min meneleponku berkata kalau kau kecelakaan?”
“Sudahlah. Ayo ikut,” ia menarik tanganku menuju taman bunga. Tempat paling landai. Di
“Bagaimana? Suka?”
“Tentu saja. Tetapi dalam rangka apa ini?”
“Hanya ingin memberimu kejutan saja. Sukses?”
“Ya.”
“Ayo makan, aku sudah lapar.”
“Dasar, kau ini memang tidak romantis.”
Hujan mulai turun, sedangkan kami mulai makan pun belum. Lilin-lilin yang mengelilingi meja kami mulai padam satu persatu. Key terlihat sangat panik. Ia langsung melepas jasnya dan mengerudungkannya di atas kepalaku lalu menggandengku menuju bungalow terdekat untuk berteduh.
“Huuuft.. gagal deh semua rencanaku,” ia manyun.
“Tidak apa-apa. Itu tadi sudah romantis menurutku.”
“Jinjja?” wajahnya langsung ceria.
“Ne.” aku tertawa kecil.
“Oh iya, aku punya sesuatu untukmu.,” ia memberikan sebuah amplop padaku. Aku membukanya. Dua lembar tiket Seoul – Venice. Aku speechless.
“Kita akan berangkat lusa. Kau senang?”
“Jelas. Tetapi bagaimana dengan pekerjaanku? Mrs Cho..”
“Mrs Cho pasti mengizinkan. Aku sudah meminta izin padanya. Apalagi yang kau pikirkan?”
“Apakah kita baikan?”
“Tentu saja iya,” ia mengacungkan jari kelingkingnya. Aku menautkan jari kelingkingku.
“Saranghae.” Eh, Key mengatakan saranghae?
“Kenapa kaget? Aku mencintaimu, jadi wajar saja kan kalau aku mengatakan saranghae padamu. Saranghae Song Rae Won. Hmmm, bukan kurasa. Saranghae Kim Rae Won.”
“Nado saranghae Kim Ki bum.”
# FIN #




0 comments:
Post a Comment