In the last post, I told I will post my fanfic here, didn't I? And here is my fanfic about SHINee. I will start from the oldest. The odonbu leader, Onew aka Lee Jin Ki. Enjoy ^ ^
Still With You
My love watches over you. Always
# # #
Kenapa kau tak melaksanakan janjimu Lee JinKi??
Toko kembali lengang. Fyuh, selesai juga shiftku hari ini.
“Ahjussi, aku pulang dulu ya. Annyeong.”
“Annyeong SangEun. Jangan lupa besok kau libur!”
“Ne, ahjussi.”
Aku berjalan ke luar toko. Seperti biasa, kulihat sosok seorang yang sangat kukenal bersandar pada etalase toko mainan.
“SangEun!” dia melambai lalu berjalan ke arahku.
“Kau pulang telat hari ini. Sekarang sudah jam sembilan. Aku sudah menunggumu lebih dari satu jam.”
“Aku
Ia memegang kedua pipiku lalu menatapku.
“Aku hanya tidak ingin sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi padamu. Ara?”
“A.. ara.. araseo.” Ia tersenyum, melepaskan tangannya dari pipiku lalu menggandeng tanganku.
“Ayo pulang. Kau mau tetap di sini sampai besok?”
“Aniyo, tentu saja tidak. Ayo pulang.”
# # #
Memang tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu, tetapi aku hanya ingin melindungimu, itu saja. Walaupun kau tidak tahu seperti apa perasaanku padamu selama sepuluh tahun ini, itu tidak akan mengubah niatku sedikitpun.
“SangEun!” ia menoleh, lalu tersenyum. Senyum yang sama dengan dengan senyum yang selalu membayangi setiap langkahku selama sepuluh tahun ini.
“Kau bekerja hari ini?”
“Uum, tidak. Ahjussi memberiku libur hari ini. Waeyo?”
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”
“Boleh.”
“Baiklah. Kutunggu di gerbang sepulang sekolah. See you.”
“See you.”
# # #
Ia berkata akan menungguku di gerbang. Mana ya? Sudah sepuluh menit aku menunggu di sini. Tidak biasanya ia terlambat. Ah, itu dia. Aku melambaikan tangan. Ia berlari kecil ke arahku.
“Mianhae, aku terlambat. Kau menunggu lama?”
“Kwenchana. Hanya sepuluh menit. Tidak lama.”
“Sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau hari ini aku yang traktir?”
“Ide bagus! Uang sakuku sudah menipis. Kau memang baik my odunbu.” Rayuku
“Memang maunya kau ini.” Ia memencet hidungku lalu kabur.
“Jinki! Awas kau ya.” aku mengejarnya.
# # #
“SangEun.”
“Ya?”
“Masih ingat janji kita?”
“Janji apa?”
“Jika salah satu dari kita sudah tidak ada, maka berdoalah untuknya dan hanyutkan lilin di sungai ini pertanda kau sudah merelakannya. Maukah kau melakukannya, berdoa untukku?”
“Jinki, jangan berkata seperti itu. Kau berkat seolah kau akan mati besok. Lihat, wajahmu pucat. Pasti karena terlalu banyak makan es krim. Sudah kubilang
“Hmm.”
“Hanya hmm?? Tahu tidak, hari ini kau aneh sekali. Raut wajahmu serius sekali. Kau juga jarang tersenyum. Waeyo?”
“Perasaanmu saja. Mungkin karena hari ini terlalu dingin. Tidak usah khawatir. Mmm… SangEun, bolehkah aku memelukmu? Hari ini dingin sekali.”
“Ne.”
Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa memelukmu seperti ini SangEun. Aku takut aku tidak bisa melindungimu lagi seperti yang kulakuakan selama sepuluh tahun terakhir ini. Akan kuingat senyummu, wajahmu, wangi tubuhmu,
# # #
Mengapa kau bicara seperti itu JinKi? Apa penyakitmu sudah separah itu? Maaf aku tidak mengatakan padamu kalau aku sudah mengetahuinya. Kau pasti marah jika tahu. Mungkin ini pelukanmu yang terakhir untukku, tetapi bisa juga pelukanku yang terakhir untukmu.
“Berdoalah untuk yang terbaik, jangan berkata seolah kematianmu sudah ditentukan. Kita akan tetap bersama, makan es krim di toko HyunBin ahjussi, jalan-jalan ke taman, ngobrol-ngobrol di tepi sungai seperti ini, menjemputku kerja paruh waktu. Tetap seperti ini.”
“Ne.” katanya sambil mengelus rambutku.
“Ayolah, jangan seperti ini. Toh, buktinya kau sehat-sehat saja
“Mmm… i.. iya.” Jawabnya ragu-ragu.
Pelukannya semakin erat.
“Dingin.”
# # #
Untuk kami berdua. Untukku, juga untuk JinKi.
# # #
“Umma.”
“JinKi, nak, akhirnya kau sadar juga.”
“Dimana SangEun? Bagaimana reaksinya? Apakah dia marah umma?”
“SangEun, mmm… begini, mungkin sebaiknya kau membaca ini.”
Umma memberikan sebuah amplop berwarna abu-abu padaku.
JinKi,
Bukannya bersikap pesimis, tetapi bersiap untuk kemungkinan terburuk memang lebih baik bukan? Mungkin kau masih bingung, lebih baik kujelaskan dari awal. Saat kau menerima
Saranghae
SangEun
Nado saranghae, SangEun
# # #
Satu tahun kemudian, tepi sungai.
Lilinku hampir seluruhnya mencair. Aku tahu seberapa banyakpun doaku untukmu, tidak dapat membayar apa yang sudah kau lakukan untukku. Kuhanyutkan lilinku yang sudah tak berbentuk. Aku sudah berdoa untukmu dan menghanyutkan lilinku, SangEun. Aku sudah merelakanmu. Aku menepati janjiku. Walaupun begitu, aku tahu kau akan selalu ada di sisiku, menjadi bagian dalam diriku. Saranghae SangEun.




0 comments:
Post a Comment