[FF] The Name I Love

The Name I Love

"Oppa."


"Ya?"


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Hmm.."


"Apakah kita akan tetap seperti ini selamanya?"


"Seperti ini?"


"Ya. Seperti ini. Berbaring di pangkuan oppa, memandang bintang dari atap setiap malam."


"Ya, mungkin. Apakah kau mau semuanya berubah?"


"Sedikit. Mungkin. Maukah oppa berjanji padaku?"


"Janji apa?"


"Oppa tidak akan meninggalkanku. Hubungan kita tidak akan pernah berubah selamanya."


"Baiklah. Yubikiri."


"Yubikiri."


###


"Baiklah. Yubikiri."


"Yubikiri."


Ia menautkan jari kelingkingnya yang mungil ke jari kelingkingku. Taukah kau Sang Eun? Ada bagian dari diriku yang tidak sanggup melaksanakan janji kita.


###


"Baiklah. Yubikiri."


"Yubikiri."


Aku menautkan jari kelingkingku ke jari kelingking Jin Ki oppa. Ini terasa sangat berat. Bodoh! Mengapa aku membuat janji seperti itu?


###

Mengapa aku harus terlahir sebagai Sang Eun dan bukan yang lain? Mengapa Jin Ki yang harus menjadi oppaku dan bukan yang lain? Mengapa kami harus bertemu di kehidupan sekarang sebagai saudara tiri? Bukan di kehidupan sebelumnya atau selanjutnya sebagai dua manusia dengan takdir yang sejalan dan benang merah di jari kelingking yang saling terhubung? Apakah cintaku untuknya tidak diizinkan? Apakah tidak ada hak baginya untuk mengetahui apa yang terus menyuarakan detak jantungku selama aku mengenalnya?


###

Tidak ada yang bisa membendung apa yang aku rasakan untuknya. Semakin sering aku dekat dengannya, semakin tebal endapan yang ada dalam hatiku. Aku tahu dia menyayangiku, tetapi seperti apa rasa sayangnya kepadaku aku tidak tahu. Apakah hanya rasa sayang dari dongsaeng kepada oppanya atau rasa sayang yang sama dengan apa yang kurasakan? Bolehkah jika aku berharap lebih?


###


"Bagaimana mempelai pria? Tegang huh?"


"Sedikit."


"Ini ada titipan dari dongsaeng tercintamu."


"Diary?"


"Tidak tahu. Dia ingin kau membacanya."


###

23 September 2004
Appa akan menikah lagi! Ini gila, aku tidak mau ibu maupun kakak baru. Mereka akan datang minggu depan untuk berkenalan denganku. Aku tidak mau!!


###

30 September 2004
Appa berhasil menemukanku di rumah Eun Suh.
Cih, aku diseret pulang untuk bertemu dengan mereka. Ahjumma yang sangat baik dan oppa yang ramah. Gentle. Ha ha.
Tapi aku takut itu semua hanya kedok.


###

18 Juli 2006
Namanya Jin Ki oppa. Aku kaget saat dia membangunkanku tadi pagi. Aku belum terbiasa dengan kehadirannya, tetapi aku rasa aku nyaman jika bersamanya.


###

14 Desember 2006
Ulang tahun Jin Ki oppa!
Saengil chukkaeyo oppa ^ ^
Dia sangat gembira saat mendapat kado dariku.
Bahkan Jin Ki oppa langsung memakai jam tangan yang kuberikan.


###

30 Desember 2006
Jin Ki oppa ingat ulang tahunku.
Ia yang pertama kali memberi ucapan selamat ulang tahun kepadaku. Jin Ki oppa bahkan memberiku sebuah gelang. Dari perak mungkin, aku tidak tahu. Gelang dengan ornamen kunci dan sayap serta plat kecil berukirkan JS. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Jin Ki Sang Eun mungkin. Kami jadi seperti sepasang kekasih kalau begitu. Lucu sekali.


###

8 April 2007
Am I in love or it just another crush?


###

16 Mei 2008
Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki Jin Ki
The name I love


###

14 Desember 2009
Bulan depan Jin Ki oppa akan menikah.


###

23 November 2009
Tiga minggu lagi aku harus siap mendapati hatiku berubah menjadi debu.


###

28 November 2009
Tujuh belas hari lagi.


###

6 Desember 2009
Sembilan hari.


###

12 Desember 2009
Lusa. Jangan egois, Sang Eun.


###

13 Desember 2009
Aku begitu bahagia melihat dia menemukan kebahagiaannya
Senyumnya adalah hal terbaik yang kutemukan di antara dalamnya jejak langkah kakiku
Mata yang berbinar itulah yang membuatku tetap bertahan di belakangnya tanpa dia menangkap sedikitpun bayangku
Walau aku tahu ini sangat menyakitkan, aku tidak bisa dan tak akan pernah mencuri sedikitpun oksigen darinya
Yang jelas, aku tahu aku mencintainya


###

14 Desember 2009
Aku akan tersenyum untuknya hari ini.


###


Sang Eun! Aku harus mencarinya.
Aku menemukannya duduk di taman gereja. Aku memeluknya. Ia terkejut.


"Kenapa kau tak mengatakannya dari dulu?"


Ia diam saja.


"Jawab, Sang Eun."


"Karena aku tidak mau hubungan kita berubah."


"Dengar, dalam hidupku hanya ada satu orang yang kuyakini bahwa ia merupakan orang yang tepat untukku memberikan separuh diriku. Dia ada dalam pelukanku sekarang. Orang bodoh yang tidak mau mengatakan perasaannya."


"Kau sama bodohnya denganku oppa. Kau juga tidak mengatakan apa-apa kepadaku."


"Ya. Kita sama bodohnya."


"Kalau aku mengatakannya lebih awal, apakah semuanya akan berbeda?"


"Pasti. Aku akan mendekapmu lebih erat."


###


"Aku bersedia."


Semuanya tersenyum gembira.


Dia di sana. Berdiri di altar dengan seorang wanita di sampingnya, tempat yang sangat aku damba. Jin Ki oppa menoleh ke arahku. Aku tersenyum. Aku sudah menepati janji yang kubuat, janji kita oppa.
Jin Ki, it will always be the name I love.

# FIN #

[FF] You Came Along With My Fate

You Came Along With My Fate

"Dingin. Aku rindu Korea. Kapan kita bisa kembali?"


"Sampai skripsimu selesai. Kita hanya menunggu itu, kan?"


"Tapi Natal tinggal sebentar lagi. Ini sudah tanggal sembilan Desember."


"Bukannya tujuh tahun yang lalu kau berkata bahwa kau ingin sekali merayakan Natal di Eiffel?"


"Itu kan dulu sebelum aku menginjakkan kaki di Paris. Sebelum kita mendapat beasiswa ke Perancis. Lagipula kita sudah merayakannya di sini selama empat tahun terakhir."


"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu.
Tunggu skripsimu selesai lalu kita akan pulang ke Korea. Oke?"


"Hmmppft.. Baiklah."


"Aku mengenalmu sepanjang aku mengenal keindahan."


"Maksudmu?"


# # #

Seorang gadis kecil berumur lima tahun berjongkok di tepi jalan yang bersalju. Hidungnya memerah, matanya terus mengeluarkan bulir-bulir air mata yang menganak pinak di pipinya, giginya beradu karena kedinginan, bibirnya mulai membiru, dan salju sudah membuat topi rajutan berwarna ungu yang dipakainya setengah basah. Ia terus sesenggukan hingga ada sebuah payung bening yang menghalangi salju membasahi tubuhnya.


"Kau bisa sakit."

Gadis kecil itu mendongak. Didapatinya seorang anak laki-laki, mungkin lebih tua setahun darinya menatapnya dengan ekspresi datar, tetapi dari sudut pandang gadis kecil itu, ia bisa melihat kecemasan di mata seorang yang berdiri di sebelahnya itu.


"Kau bisa sakit," anak laki-laki itu mengulang perkataannya.


Gadis kecil itu menunjuk lutut kanannya yang berdarah.


"Biar kulihat. Pegang ini."

Ia mengangsurkan payung yang digenggamnya kepada gadis kecil itu lalu memeriksa luka di lutut kanan gadis kecil itu, si anak laki-laki mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna putih dari saku kanan celananya membersihkan luka gadis kecil yang terus terisak di hadapannya. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangan lain berwarna biru muda dari saku mantelnya dan memberikannya pada gadis kecil itu.


"Berhentilah menangis."


Gadis kecil itu menurut. Ia menyeka air matanya dengan sapu tangan biru muda yang baru didapatnya.


"Kau bisa berjalan?"


Gadis kecil itu menggeleng.


"Rumahmu di mana?"


Gadis kecil itu menunjuk ujung jalan, satu di antara dua rumah yang ada di sana. Anak laki-laki itu mengangguk kecil.


"Biar kugendong. Ayo naik."


Gadis kecil itu terlihat ragu-ragu.


"Aku jauh lebih tinggi darimu. Aku pasti kuat menggendongmu jika hanya ke sana."


Gadis kecil itu akhirnya naik ke punggung si anak laki-laki.


"Pegangan. Jangan sampai jatuh."


Gadis kecil itu memeluk leher si anak laki-laki erat.


"Namaku Choi Min Ho. Kau?"


Gadis kecil itu akhirnya membuka mulutnya, memperdengarkan suaranya kepada si anak laki-laki untuk pertama kalinya.


"Hye Wook. Choi Hye Wook."

Hanya suara langkah si anak laki-laki yang terdengar berikutnya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka sendiri tentang apa yang mereka temukan hari itu. Si anak laki-laki menemukan keindahan untuk pertama kalinya dan gadis kecil itu menemukan jalan di mana ia akan melangkah selanjutnya, sesuatu yang disebutnya takdir.


# # #


"Lihat. Pemandangan dari puncak Eiffel selalu bagus ya?"


"Hei, jangan mengalihkan pembicaraan. Apa maksud perkataanmu tadi?"


"Tujuh belas tahun yang lalu, seorang anak laki-laki menemukan potongan dari batu paling berharga di dunianya sedang menangis di tengah lebatnya salju yang membuat semuanya terlihat putih. Seorang gadis kecil dengan topi rajutan berwarna ungu dan bibir yang mulai membiru."


Si gadis terlihat sedikit terkejut tetapi juga penasaran.


"Lanjutkan."


"Seketika itu juga ia merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti vodka telah menggantikan darah mengisi setiap pembuluh dalam tubuhnya. Sesuatu yang hangat mengalir dalam tubuhnya. Juga keinginan untuk melindungi keindahan yang ada di hadapannya.
Kaulah keindahan itu. Je t'aime. Veux tu m'épouser?"

Laki-laki itu berlutut sambil memegang kotak beludru hitam yang terbuka di hadapan seorang gadis berambut dark chestnut yang mengenakan beanie berwarna ungu. Keindahan yang ditemukannya tujuh belas tahun yang lalu. Gadis itu hanya bisa tercengang lalu mengangguk kecil. Laki-laki itu kemudian menyematkan cincin berwarna perak itu ke jari manisnya. Tangis gadis itu pecah seketika. Laki-laki itu bangkit lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Si gadis berbisik di telinga tunangannya.


"Apakah kau tahu apa yang dirasakan gadis kecil itu tujuh belas tahun yang lalu?"


"Molla. Kau tahu?"


"Ia menemukan takdirnya."

# FIN #

[FF] You

You

Aku berharap jawaban yang berbeda akan terlontar dari mulutmu untuk menjawab pertanyaan terakhirku.


# # #


"Jadi, kau akan meninggalkan desa ini?"


"Ya."


"Membiarkan boncengan sepedaku berdebu?"


"Ya."


"Mengosongkan keranjang sepedaku? Tidak akan mengisinya dengan bekal makan siang lagi?"


"Ya."


"Apakah termasuk mengikis hari-hari yang telah kita jalani bersama?"


".......Ya."


# # #

Tonight, I look at your face when you're sleeping

I wonder, will you shine my day with your smile tomorrow?


"Selamat pagi."


"Pagi," dia menjawab salam Ryeo Wook dengan malas.


"Hey, mukamu kusut sekali. Apakah belum ada kemajuan?"


"Belum. Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Tidak ada petunjuk sedikitpun tentang keberadaannya. Nihil."


"Aku mendapat info, katanya dia meninggalkan desa tiga tahun setelah kau pindah."


"Kau tahu ke mana dia?" wajahnya terlihat bersemangat.


"Tidak. Hanya itu yang kudapat. Mianhae."


"Gwenchana. Tidak usah minta maaf. Aku senang kau sudah membantuku mencari Hyuk Jae."


Deg! Selalu ada rasa yang berdesir dalam diriku setiap kali dia menyebut namaku. Rasa yang tidak pernah berubah selama tiga belas tahun. Desir yang mungkin tidak pernah dirasakannya saat bersamaku.


"Aku juga senang bisa membantumu," Ryeo Wook tersenyum, tetapi aku melihat gerakan rahangnya, mengeras saat mendengar namaku disebut tadi.
Apakah? Apakah dia jtga menyukai Min Young?


# # #

Tonight, I listen to your voice

It feels like my dream is going closer in every second.


"Ayo cepat! Hari ini kita piket. Aku tidak mau dimarahi Hyuk Ji songsaenim karena kita berangkat kesiangan."


"I'm coming!"

Dia keluar sambil membawa dua buah kotak bekal di tangan kanannya dan menenteng sepasang sepatu di tangan kirinya. Dia berlari kecil ke arahku, meletakkan kotak bekal di keranjang lalu segera duduk di boncengan sepedaku.


"Pakai dulu sepatumu."


"Aku bisa memakainya sambil kau mengayuh sepedamu. Tenang saja. Ayo jalan," dia menepuk pelan punggungku.


"Terserah. Tetapi jangan banyak bergerak.
Kita bisa jatuh nanti."

Aku mulai mengayuh sepedaku. Kami melewati persawahan sekarang.

Anginnya mulai kencang dan dia kelihatannya mulai kesulitan untuk memakai sepatunya. Aku mulai tidak bisa mengendalikan sepedaku.


"Min Young! Jangan banyak bergerak!"


"Aku tidak... Kyaaa!!! Hyuk Jae!"


Brugh!

Aku membuka mata. Dia jatuh tepat di atas tubuhku. Hidung kami bersentuhan. Wajahnya memerah. Lucu sekali.


"Oh, eh. Mianhae."

Dia bangkit lalu membersihkan seragamnya. Aku ikut bangkit.


"Emm... Hyuk Jae, di mana sepedamu?"

Aku melihat sekeliling.


"Omo! Itu dia. Lihat!"

Sepedaku masuk ke sawah, bekal kami berceceran. Tak lama kemudian tawa kami berderai. Di sela derai tawa kami, ia bertanya.


"Bagaimana kita bisa masuk sekolah hari ini?"


# # #

Tonight, I feel my life is uncompleted

I realize, it's because of you don't by my side


"Benarkah kau sudah mendapat informasi lagi, Ryeo Wook?"


"Ne. Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu sekarang."


"Ayo, aku tidak mau terlambat.
Aku harus bertemu dengannya kali ini."

Aku di sini, Min Young. Apakah kau benar-benar tidak bisa merasakan di mana aku berada? Kau tahu, aku selalu ada di sisimu baik di saat kau terjaga maupun terlelap.


# # #

Tonight, I wanna hug you
Even my body as invisible as dust, I still need you


"Yeon Ra ahjumma."


"Ya. Siapa?"


"Saya Min Young, ahjumma."

Kulihat wajah eomma berubah mendung.


"Ehm, eh ya. Silahkan masuk, Min Young dan..."


"Ryeo Wook."


"Ryeo Wook ssi. Duduk, duduk. Anggap saja rumah sendiri. Sebentar, kalian tunggu dulu."

Eomma berjalan menuju dapur. Mungkin membuatkan minum. Tidak lama kemudian, eomma kembali dengan nampan berisi tiga gelas minuman dan makanan kecil.


"Ada apa Min Young?"


"Begini ahjumma, saya ingin bertemu dengan Hyuk Jae. Apakah dia ada?"

Eomma tercekat.


"Hyuk Jae. Dia... Hyuk Jae sudah meninggal dua bulan yang lalu."

Tangisnya pecah. Aku ingin memeluknya tetapi aku tidak bisa. Kini ia ada dalam pelukan Ryeo Wook. Mianhae, Min Young. Aku telah membuatmu menangis histeris seperti itu. Seandainya waktuku untuk bersamamu lebih lama.


# # #


Tonight, I smell your body scent
And I fill my lungs with your scent

Aku memejamkan mata, merasakan hangatnya butir-butir pasir pantai di punggungku, mendengar damainya deburan ombak dan mencium harum rambutnya yang samar terbawa oleh angin laut. Aku menikmati ini. Semuanya.

Tiba-tiba jemarinya menggelitik jari-jari tangan kananku, menggandengnya.


"Hyuk Jae."



Mataku masih terpejam, tetapi ada sesuatu yang beredesir jauh di dasar hatiku.


"Ne."


"Apakah kau menyayangiku?"


DEG!


"Tentu saja."


"Seperti apa rasa sayangmu itu?"


Aku membuka mata, memutar tubuhku menghadapnya. Membiarkan hangatnya pasir meresap ke pipi kananku.


"Itu seperti aku akan menjadi payung ketika rintik hujan coba menyentuhmu. Seperti mantel yang akan melindungimu dari dinginnya angin musim gugur. Lalu aku akan menggenggam tanganmu seperti ini di saat kau jatuh agar kau merasa lebih baik."


Aku mempererat genggaman tanganku. Sempat kulihat semburat merah muncul di wajahnya. Hanya sekilas.


"Dan seperti apa rasa sayangmu kepadaku, Min Young?"


"Mmm.. Seperti... Ini."


Dia menarik tanganku untuk berdiri lalu memelukku.


"Aku akan memberikan seluruh cahaya yang kumiliki untuk menerangi bagian dari dirimu yang meredup dan cahayaku untukmu tidak akan pernah habis. Errr.... Itu seperti aku akan membuatkan bubur dan menyelimutimu saat kau sakit. Aku akan menyatukakan kembali serpihan-serpihan hatimu saat ia hancur karena sakitnya mencintai...."


Ucapannya menggantung. Aku menunggu.


"Kau seperti saudara bagiku. Aku hanya tidak ingin kau terluka."


Min Young, apakah kau melihatnya? Hatiku hancur karena mendengarnya. Anganku bahwa kau memiliki rasa yang sama denganku ternyata terlalu tinggi. Sekarang, bagaimana kau bisa menyatukan serpihan hatiku jika hatiku hancur karena sakitnya mencintaimu.


# # #


Tonight, the stars are shining
Everything will be alright because they shine for you


"Masih lama?"


"Bersabarlah, aku hanya membuat sketsa kali ini. Lain kali aku tidak akan mengajakmu lagi kalau kau bosan menungguku melukis."


"Mengapa kau melukis padang bunga matahari?"


"Eh?"


Aku menghentikan gerakan tanganku di atas kanvas.


"Kau menyukai bunga matahari, bukan? Kita berada di tengah padang bunga matahari sekarang. Biarkan mereka mendengar apa alasanmu untuk menyukai mereka."


"Karena mereka setia. Mereka setia kepada matahari. Bunga matahari selalu mengikuti ke mana arah matahari bergerak.
Setia. Saat bulan menggantikan matahari, mereka memilih untuk tidur dan terus menanti hingga matahari kembali. Tidak terpikir sedikitpun di benak mereka untuk berselingkuh dengan bulan. Itulah yang aku kagumi dari mereka. Hey, bukannya kau juga menyukai bunga matahari? Katakan mengapa, agar mereka juga bisa mendengarnya," aku mengembalikan perkataannya.


"Aku menyukaimu."


Aku tercengang.


"Aku menyukai mereka karena mereka sepertimu. Setia, angkuh, tetapi selalu dapat membuatku merasa lebih baik."


# # #


Tonight, I draw the sky
And look, the moon smiles for you


Eomma kembali ke belakang. Kali ini masuk ke dalam kamarku. Eomma kembali sambil membawa sebuah kanvas.


"Min Young, Hyuk Jae berpesan bagaimanapun caranya,
kanvas ini harus sampai ke tanganmu."


Dia menerima kanvas yang disodorkan eomma lalu membaliknya, melihat apa yamg terlukis di sana.
Dia terpaku, air mata kembali membanjiri pipinya.
Lukisan itu. Lukisan padang bunga matahari yang dia inginkan. Tempat di mana kami menghabiskan sebagian besar kebersamaan kami. Di mana ada hari saat aku menyadari bahwa aku memberinya tempat tersendiri di hatiku.


# # #


Tonight, I want to say goodbye
I’ve find a place where I supposed to be


Dia datang ke sini untuk pertama kalinya.
Dia datang bersama Ryeo Wook. Sorot matanya tidak seceria seperti saat aku bersamanya. Dia meredup.


"Bicaralah," Ryeo Wook menepuk pundaknya pelan.


Dia berjalan mendekat lalu berlutut dan berbisik di nisanku.


"Hyuk Jae, mengapa tidak ada yang memberitahuku tentang hal yang kau alami ini?"


Suaranya semakin serak. Dia menarik nafas dalam sebelum kembali berbicara.


"Lebih dari lima tahum aku mencarimu. Butuh lebih dari lima tahun aku mencarimu. Butuh lebih dari sekedar kesabaran hingga aku di sini sekarang. Kau tahu mengapa aku mencarimu? Karena aku mencarimu. Aku ingin mengatakannya sebelum semua terlambat, tetapi yang kutakutkan telah terjadi. Aku sudah tidak bisa bertemu denganmu lagi sekarang. Sekalipun kau tidak merasakan hal yang sama, setidaknya aku tidak akan tersiksa karena memendam perasaan ini sendiri.
Aku hanya ingin kau tahu bagaimana perasaanku tanpa merubah hubungan kita. Kebersamaan kita merupakan hal yang paling berharga. Aku tidak akan pernah melupakannya, juga melupakanmu. Tempatmu di hatiku tidak akan pernah berubah, aku akan menempatkan Ryeo Wook di sisi yang berbeda darimu. Ryeo Wook, dia yang akan menjagaku mulai hari ini."


Dia meletakkan setangkai bunga matahari di dekat nisanku.


"Sunflower. Just like you. Terima kasih, Hyuk Jae."


Dia bangkit dan menghampiri Ryeo Wook, menepuk punggung Ryeo Wook pelan.


"Sudah selesai. Ayo pulang."


"Ya."


Sebelum berjalan pulang, dia berbalik menghadap nisanku dan tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya, entah dia dapat melihatnya atau tidak. Kurasakan angin menembus tubuhku sekarang. Tubuhku menipis. Sebagian telah berubah menjadi kilauan debu yang terbawa oleh angin ke atas sana.
Aku akan menjadi serbuk bintang yang terus melihatmu dari gulita langit malam. Mendongaklah Min Young, dan kau akan melihat senyumku di sana.


# FIN #

[FF] Le Chemin Que J'ai Choisi

Le Chemin Que J’ai Choisi

Aku datang untuk mencuri sejumput debu bernama kebahagiaan dari kalian. Ini untuknya, bukan aku.

# # #

"Noona, bertahanlah," aku menggenggam tangannya di mana tertancap jarum infus di sana.


Ia tersenyum.


"Aku tidak akan memaafkannya kalau noona pergi meninggalkanku sendirian."


"Jangan minnie," ia berbisik lemah.


"Lalu? Kenapa dia meninggalkanmu ketika kalian akan menikah dua bulan lagi? Dia juga yang membuat kondisimu seperti sekarang. Aku akan melakukan sesuatu padanya."


"Aniyo." Suaranya hampir tidak terdengar.


"Kalau begitu, noona harus berjanji padaku untuk bertahan. Ya?"


Yun Hee noona mengangguk. Ia meraih tangan kiriku lalu menulis sesuatu di punggung tanganku.


"B? B for..... Blueberry?"


Ia tertawa kecil


"Apa noona gila? Kalau ketahuan dokter atau eomma bagaimana?"


Ia cemberut. Aku tidak pernah menang melawan Yun Hee noona.


"Baiklah, tapi aku juga minta ya."


Wajahnya berubah sumringah.


Aku beranjak dari dudukku tetapi Yun Hee noona menahan tangan kiriku. Aku menoleh. Ia tersenyum, tulus, indah sekali.

# # #

Yun Hee noona pasti senang sekali. Aku membelikannya es krim blueberry dengan ukuran bucket yang lebih besar dari biasanya. Aku tidak sabar melihat senyumnya. Senyum yang sama dengan yang terakhir kali ia perlihatkan padaku.

Aku memasuki lorong rumah sakit. Kamar rawat Yun Hee noona ada di ujung. Aku sudah bisa melihatnya dari sini. Eh, kenapa ramai sekali kamar Yun Hee noona? Perasaanku tidak enak. Benar saja, aku melihat eomma menangis tersedu-sedu. Aku segera menerjang pintu kamar rawat Yun Hee noona, tidak memperdulikan larangan dokter dan suster yang tidak memperbolehkanku masuk. Terpana, tepatnya aku shock melihat tubuh yang ditutup kain putih di atas ranjang. Aku menyibakkan sebagian kain yang menutupinya. Terdapat seraut wajah yang damai di sana. Dadaku sesak. Yun Hee noona, sesuai janjiku aku akan melakukan sesuatu padanya. Untukmu.

# # #


"Yun Hee noona."


"Yun Hee."


"Ya."


"Dari mana kau mengenalnya?"


"Itu tidak penting."


"Siapa kau?"


"Lupa hah? Atau memang sengaja melupakan?"


"Siapa kau?"


Aku menyibakkan sedikit rambut merahku. Ia terlihat berpikir.


"Tae Min?"


Pertanyaan retoris.


"Bukannya kau?"


"Sekolah di Amerika? Ya."


"Untuk apa kau menemuiku?"


"Nostalgia dengan mantan calon suami noonaku."


"Tidak mungkin."


"Tidak percaya hyung?"


"Kau telah merebut Dae Rin dariku."


"Tidak. Dia yang memilihku. Aku tidak pernah merebut siapapun dari siapapun."


"Dia tidak mungkin meninggalkanku."


"Yun Hee noona juga berpikir bahwa kau tidak akan meninggalkannya. Tetapi kenyataannya kau meninggalkannya demi Dae Rin."


Ia terdiam.


"Kau tahu? Kupikir Dae Rin tidak lebih baik dari Yun Hee noona, tetapi kau juga tidak lebih baik dari Dae Rin."


Tangannya mengepal.


"Apa tujuanmu?"


"Aku? Tidak ada."


"Balas dendam?"


"Tidak. Aku hanya ingin bersenang-senang."


"Kau pikir Dae Rin apa?!"


Ia melayangkan tangan kanannya yang terkepal tepat ke arah pipi kiriku. Asin.

Anyir. Cairan itu mengisi mulutku dan beberapa dari mereka menetes dari ujung bibirku. Wajahnya terlihat puas, ia lalu berbalik meninggalkanku dengan cairan yang sewarna dengan rambutku memenuhi mulutku. Tetapi aku menikmatinya, seperti aku menikmati semua permainan yang baru dimulai ini. Welcome to the game.

# # #

Tidak lebih dari tiga menit lagi ia akan keluar dari toko itu dan menyeberang jalan. Aku mulai menyalakan mesin mobilku. Benar saja, ia keluar dari toko dan berjalan menuju trotoar. Melakukan rutinitas yang sama setiap harinya itu bodoh, hyung. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaan aman sebelum menyeberang. Ia mulai berjalan. Aku memasukkan gigi satu dan menjalankan mobilku perlahan.

Kurang dua meter lagi, aku menekan klakson. Kita lihat, apakah kau bisa menghindar atau semua rencanaku berjalan mulus?Ia menoleh. Aku sedikit mencondongkan tubuhku ke depan agar ia bisa melihatku. Ia terlihat sedikit terkejut. Aku tersenyum ke arahnya, sepertinya perkiraanku tepat Eun Hyuk hyung, kau selalu bisa kubaca. Ia menggumamkan sesuatu, sesuatu seperti taemin kurasa. Selamat tinggal Eun Hyuk.

Aku menginjak pedal gas lebih dalam, menerjang tubuhnya yang langsung terpelanting entah ke mana. Tetap memacu mobilku tanpa mengurangi kecepatan sedikitpun. Hmm, ada sedikit bercak darah menodai kaca depan mobilku. Darah Eun Hyuk. Baguslah, tidak akan kubersihkan mungkin. Biar menjadi cindera mata terakhirnya untukku. Cindera mata yang manis, bukan?

# # #

Ia masuk ke dalam mobilku lalu menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang di sebelahku.


"Mianhae. Kau pasti menunggu lama."


"Kwenchana. Ada yang tertinggal, noona?"


Ia mengobrak-abrik tasnya.


"Hmmm, kurasa tidak."


Aku menjalankan mobilku perlahan.


"Sebenarnya kita mau ke mana Tae Min? Kau menelepon mendadak sekali."


"Rahasia. Ini kejutan untuk noona."


"Aih, kau membuatku penasaran."


"Namanya juga kejutan. Kalau noona tahu lebih dulu kan tidak lucu."


"Tae Min, sudah kubilang. Jangan panggil aku noona lagi.
Aku kan sudah menjadi yoja chingumu. Ara?"


"Arasseo noo... Ehm, Dae Rin."


"Ya, begitu lebih baik."


Ia tersenyum. Manis. Apakah senyum itu tidak akan pernah memudar?

# # #


"Apakah masih jauh?"


"Ya, mmm.. Tidak. Kita sudah lebih dari setengah jalan."


Tiba-tiba saja mesin mobilku mati.


"Aish! Bagaimana ini?"


"Tenang Tae Min. Ini kan dataran tinggi, udaranya sejuk. Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?"


"Ide bagus. Sebentar, aku akan menelepon temanku dulu. Meminta bantuan."
Aku memencet beberapa keypad handphoneku.


"Sudah dekat. Sebentar lagi? Ya."


Aku menutup flap handphoneku.


"Ayo, aku tahu daerah ini.
Ada tempat dengan pemandangan bagus di sekitar sini."


Tangannya menggandeng tanganku.


"Ayo."

# # #

"Waaah, bagus sekali! Semuanya hijau!"


Ia maju selangkah.


"Tapi jurangnya terlalu dalam."


"Eunhyuk hyung."


Ia langsung menoleh.


"Mwo?"


"Kau tahu kenapa dia meninggal?"


"Tabrak lari. Pelakunya tidak dapat ditemukan karena dia memakai plat palsu."


’Ya! Siapa orang bodoh yang mau menabrak orang dengan plat asli?’


"Hmm, sudahlah.. Itu masa lalu.. Sudah lama."


"Lalu kau tahu siapa yang membunuhnya?"


"Membunuh?"


# # #


"Tae Min, kau. Jadi..
Untuk apa?"


"Noonaku?"


"Noona?"


"Yun Hee noona."


"Kau? Balas dendam?"


"Tidak. Aku hanya melakukan apa yang telah ia lakukan pada Yun Hee noona.
Supaya ia juga tahu tentang rasa sakit."


"Lalu?"


"Lalu? Kau tidak sadar? Dirimu terlalu polos, Dae Rinku sayang. Semuanya sandiwara, jelas. Aktingku bagus, bukan?"


"Tae Min.."


Suaranya bergetar, wajahnya memucat.


"Selanjutnya."


Aku mendekat ke arahnya. Mencium wangi rambutnya sekali lagi. Berbisik di telinga kanannya.


"Maaf."


Aku mendorong tubuhnya ke dalam jurang.


Ini agar kau merasakan angin apa yang mencabikku selama ini.

# # #

Penghuni ruangan pengap berukuran 3 X 3 itu akhirnya beranjak dari singgasananya di sudut ruangan. Seorang pemuda kurus berumur tak lebih dari tujuh belas tahun dengan rambut merahnya yang berantakan berjalan menuju sudut lain ruangan itu, melewati satu-satunya bagian dari ruangan itu yang diterangi cahaya tua matahari sore, berhenti sejenak di sana menatap matahari dengan rasa rindu yang amat sangat seolah matahari mewakilkan seorang yang akan ditemuinya sebentar lagi. Ia berpaling, menatap setiap sudut langit-langit dengan pandangan ketakutan. Dalam pikirannya, ada sepasang mata yang menatapnya lekat di ketiga sudut ruangan. Seorang perempuan dengan pandangan mengiba, seorang laki-laki dengan sorot mata penuh kebencian, dan yang terakhir seorang wanita dengan wajah pucat dengan tatapan penuh kerinduan. Tanpa mengindahkan itu semua, pemuda itu kembali berjalan menuju lemari reyot yang tidak lebih tinggi dari pinggangnya di sudut ruangan di mana tak ada satupun wajah di sana. Membuka pintunya, mengobrak-abrik isinya mencari sesuatu yang telah ia pikirkan selama seminggu ini. Memaksa kedua mata lelah dengan kantung hitam yang menggantung di bawahnya untuk menemukan harta karunnya. Benda tipis berwarna perak itu akhirnya ada dalam genggamannya. Ia membawanya ke bawah cahaya jingga matahari, mengangkatnya tinggi-tinggi. Tatapannya berkata inilah yang aku butuhkan sekarang. Ia mengelus-elus harta karunnya, mengagumi setiap cahaya matahari yang terpantul darinya dan mengindahkan setiap cacat yang ada di sana. Menurunkannya, pemuda itu menatap benda yang digenggamnya lurus-lurus. Menimbang sesuatu, keputusannya. Tujuannya berdiam di sana selama seminggu. Tak lebih dari tiga menit pemuda itu mendongakkan kepalanya, menegakkan badannya, raut wajahnya menjadi jauh lebih cerah meskipun mata merahnya tidak berubah sedikitpun. Ia menyunggingkan seulas senyum. Tanpa ragu-ragu menggoreskan benda perak itu ke pergelangan tangan kirinya. Dalam. Membuatnya ambruk seketika sementara pergelangan tangan kirinya terus mengeluarkan cairan pekat. Menidurkannya dalam genangan cairan pekat yang sewarna dengan rambutnya. Untuk selamanya.

And the sleeping prince is back to his deep sleep, children.

# FIN #

Le chemin que J’ai choisi = the path that I have chosen

My Plurk

About Me

My photo
sragen, jawa tengah, Indonesia
Nothing special about me. Just a girl who loves sky, star,writing and dreaming everyday.

chat here


ShoutMix chat widget

SHINee


My Visitors

who's online

FEEDJIT Live Traffic Feed

FEEDJIT Live Traffic Map

About this blog

Banner

Freaky Fictie ”F(4)’fanfic